Menyikapi Pemahaman Pluralisme

Menyikapi Pemahaman Pluralisme

Bumitahfidz.co.id – Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) bekerja sama dengan Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta berhasil menggelar acara Bedah Buku “Tafsir Al-Misbah dalam Sorotan” pada Kamis (07/11/19) kemarin di Aula H.A.R Partosentono Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Hadir sebagai narasumber Afrizal Nur (penulis buku, dosen UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Riau), Muchlis M. Hanafi (Ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an/Dewan Pakar PSQ Jakarta), Izza Rahman (Dosen UHAMKA Jakarta) dan Eva Nugraha (dosen UIN Jakarta) selaku moderator acara.

Yusuf Rahman yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya acara. “kajian akademik memang perlu ditanggapi secara akademik”, ujarnya.   

Pada sesi pemaparan narasumber Afrizal Nur selaku penulis buku mengulas tiga topik utama yang dikritisi dari Tafsir Al-Misbah yaitu seputar posisi Rasulullah dalam kasus hukum, indikasi syiah, dan paham pluralisme agama. Pada kasus hukum, dosen UIN Suska Riau ini menyayangkan keterangan dalam Tafsir Al-Misbah Keputusan Rasul selaku Hakim secara formal pasti benar, tetapi secara material belum tentu. Alasannya dengan keterangan ini, menurut Afrizal, Tafsir Al-Misbah dapat menyesatkan para pembaca awam.

Afrizal Nur juga mempermasalahkan pengutipan Tafsir Al-Mizan karya al-Tabataba’i dalam Tafsir Al-Misbah. Menurutnya, tafsir syiah tidak sepatutnya dikutip. Apalagi al-Tabataba’i diindikasikan tokoh syiah yang paling banyak mempraktikkan nikah mut’ah. Terakhir terkait dengan penjelasan Q.S al-Mudatsir ayat 4, Afrizal juga menyesalkan keterangan dalam Tafsir Al-Misbah bahwa semua agama mengajarkan kebersihan batin.

Menanggapi buku yang berasal dari disertasi Afrizal Nur di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun 2013, Muchlis M. Hanafi menuliskan surat terbuka beserta catatan kritis sebanyak 67 halaman. Muchlis mengatakan bahwa sedikitnya terdapat dua kekeliruan mendasar yaitu dari sisi metodologis dan substansi. Muchlis menyayangkan buku yang berasal disertasi dengan judul Kajian Analitikal Terhadap Pengaruh Negatif dalam Tafsir Al-Misbah ini tidak disertai metode dan langkah-langkah penelitian di dalamnya.

Bagaimana kita mengukur pengaruh negatif? Apakah ada penelitian tentang pengaruh negatif Tafsir Al-Misbah? Mengapa dibatasi lima kitab karya Ibnu Katsir, Abdurrahman al-Sa’di, Abu Bakar al-Jazairi, Ali Al-Shabuni, dan HAMKA untuk menghakimi Tafsir Al-Misbah? Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini dilontarkan Muchlis pada pemaparannya tentang metodologi.

Dari segi substansi, menanggapi soal posisi Rasulullah, Muchlis menjelaskan bahwa kajian seperti ini sudah banyak dilakukan para ulama baik terdahulu maupun kontemporer. “Terkait dengan Tasharrufat al-Rasul ini, Imam al-Nawawi, Shah Waliyullah al-Dihlawi, al-Qarafi, Syekh Mahmud Syaltut, bahkan Yusuf al-Qardawi sudah mengulas ini dengan komprehensif,” tegasya.

Masalah Tafsir Al-Misbah mengutip al-Tabataba’i, Muchlis mengatakan bahwa apa yang dikutip ini adalah terkait dengan aspek kebahasaan, makna filosofis ayat dan sebagainya. Bukan pada aspek-aspek  terkait akidah Syi’ah maupun praktek fikihnya seperti nikah mut’ah. “Tidak hanya mengutip, Pak Quraish juga mengkritisi tafsir yang dikutipnya. Seperti dalam ayat ‘Abasa wa Tawalla, beliau mengkritik pendapat al-Tabataba’i,” pungkas alumnus Universitas Al-Azhar dari S1 sampai S3 ini.

Izza Rahman sebagai narasumber ketiga mengapresiasi pernyataan Afrizal dalam buku yang mengakui bahwa Tafsir Al-Misbah adalah karya tafsir terbesar di Indonesia saat ini. Selain mengapresiasi, Izza Rahman banyak menyodorkan fakta-fakta dengan mengkomparasikan Tafsir Al-Misbah dengan Tafsir Al-Mizan karya al-Tabataba’I juga menyandingkan posisi Quraish Shihab dengan Hamka.

“Buya Hamka dalam tafsirnya mengatakan meskipun terdapat perbedaan kepercayaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah, tetapi dalam hal pengetahuan amat sempit jika tidak mau peduli hanya karena kesyiahan. Pengetahuan bersifat universal karena milik manusia bersama,” kata Izza Rahman menjelaskan posisi Hamka seperti Quraish Shihab.

Pada sesi komentar dan tanya jawab, Media Zainul Bahri berpendapat bahwa faktor sosiologis mungkin berpengaruh terhadap produk keilmuan melihat karya Afrizal Nur. “Indonesia seperti Mesir, dengan kondisi masyarakat yang majemuk, ragam kultur yang berbaur memungkinkan karya tafsir seperti Al-Misbah yang menghargai perbedaan,  sedangkan Malaysia yang elit-elit politiknya dikuasai muslim eksklusif, lebih cocok belajar untuk memperkuat akidah disana,” terang wakil dekan bidang kemahasiswaan ini.

Media menyoroti kekeliruan Afrizal Nur dalam memahami pluralisme. Menurutnya dengan mengatakan ada kebaikan dalam agama lain, Quraish Shihab berposisi sebagai mufassir yang menghargai pluralitas agama, bukan berpaham pluralisme. “Pluralisme agama itu meyakini bahwa orang-orang baik dari agama lain juga akan masuk surga,” katanya.

Acara yang berlangsung cukup meriah ini, selain dipadati mahasiswa dari UIN Jakarta juga dihadiri oleh mahasiwa PPL yang sedang berkegiatan di PSQ dari Ma’had Aly As’adiyah Sulawesi Selatan dan mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan. Santri Bait Quran PSQ pun turut serta hadir sebagai peserta acara. (lie)

ahmadiyah

ahmadiyah

bumitahfidz.co.id Kali ini saya berkesempatan untuk berkunjung ke masjid Jemaah Ahmadiyah di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan dalam acara Jalsah Salanah atau pertemuan tahunan yang rutin dilaksanakan oleh Jemaah Ahmadiyah. Salah satu komunitas Ahmadiyah yang ada di Indonesia.

Pertemuan antar Ahmadi (anggota Ahmadiyah) ini memang rutin dilaksanakan. Ada yang mingguan, bulanan atau tahunan. Ada yang dilaksanakan di daerah, provinsi, negara, hingga pertemuan internasional yang mempertemukan Jemaah Ahmadiyah yang tersebar di ratusan negara. Mereka sangat kokoh menjaga nilai-nilai persaudaraan dan kesatuan.

Jalsah Salanah yang saya ikuti ini merupakan pertemuan anggota Ahmadiyah sejakarta. Tema yang diangkat adalah “Cinta Tanah Air Adalah Bagian dari Iman”. Saya cukup senang sekaligus terenyuh melihat tema yang tertulis dalam banner besar di depan saya, tentu saja karena saya dan mungkin teman-teman ketahui, negara bahkan belum sempat memenuhi hak mereka sebagai sebuah kelompok atau komunitas.

Bersama teman-teman dari Lembaga Studi Agama dan Filsafat, saya berkunjung pada hari kedua dari tiga hari yang diselenggarakan. Kita disambut dengan sangat hangat dan bersahaja oleh jamaahnya.

Acara ini juga dihadiri oleh Omi Nurcholish Madjid, istri dari seorang cendekiawan Muslim Indonesia, Nurcholis Majid atau yang lebih akrab dikenal Cak Nur.

Ia menceritakan bagaimana ia dan terutama suaminya, berjuang membela kebebasan beragama di Indonesia pada saat itu. Saat di mana harga untuk sebuah pertemuan semacam ini adalah hinaan, intimidasi bahkan persekusi.

Di tengah meningkatnya tensi beragama di Indonesia, saya merasa sangat beruntung bisa mendapat kesempatan untuk berkunjung sekaligus melakukan dialog bersama sesama muslim yang kerapkali disalahpahami dan diperlakukan tidak adil. Dari sini saya bisa melihat kekokohan Jemaat Ahmadiyah.

Saya mengerti, bahwa di banyak daerah di Indonesia, Jemaat Ahmadiyah seringkali dianggap sebagai aliran baru, keluar dari Islam, kafir, dan seterusnya, dan seterusnya. Hak-hak mereka sebagai individu ataupun kelompok seringkali terabaikan atau bahkan direnggut begitu saja, sebagaimana yang terjadi di Lombok beberapa tahun silam.

Tetapi, tahukah mereka bahwa dalam ceramah-ceramah yang saya dengarkan, tidak ada satupun ajakan untuk membalas mereka yang telah merampas hak, membakar masijdnya menuduh dengan segala macam tuduhan yang menyudutkan.

“Jawablah kekerasan mereka dengan kelembutan,” ujar salah seorang muballigh Ahmadi. Tentu saja, itu merupakan ajaran penting Islam, untuk berkata baik, berakhlak mulia.

Saya cukup terenyuh dengan……. selengkapnya klik BincangMuslimah.Com