Mau Punya Rumah Atau Kavling Tanpa Bank? Ini Caranya

Mau Punya Rumah Atau Kavling Tanpa Bank? Ini Caranya

Bumitahfidz.co.id – saat ini rumah menjadi hal paling penting ketika membina sebuah keluarga baru, karena itulah semakin banyak developer rumah yang membangun rumah dengan memberikan sistem pembayaran yang menarik. Tetapi terkadang ada sistem KPR rumah yang menggunakan sistem riba sehingga secara agama dianggap terlarang.

Jika anda tidak ingin membeli rumah melalui bank maupun sistem riba, anda bisa menggunakan beberapa cara mendapatkan rumah yang lain. Karena itulah anda perlu membeli rumah tanpa bank dan riba dengan beberapa cara yang akan kita ulas berikut ini:

  1. Bayar Rumah Secara Cash

Hal pertama adalah dengan membeli rumah secara cash saja, dengan begitu anda tidak perlu meminjam ke bank dengan sistem bunga. Biasanya Bank memang memberikan sistem bunga sehingga itulah yang akhirnya membuat kredit rumah tersebut mengandung riba.

Anda bisa menabung terlebih dahulu jika memang uangnya belum cukup, yang terpenting ada target kapan anda ingin membeli rumah. Dengan begitu anda bisa segera membeli rumah secara cash, tetapi memang butuh kerja keras karena tidak mudah mendapatkan rumah dengan cash.

  1. Membeli Secara Barter

Anda juga bisa membeli rumah dengan barter, misalnya anda memiliki sebidang tanah dan ingin anda barter dengan rumah tertentu. Sistem seperti itu diperbolehkan, apalagi jika antara tanah dengan rumah tersebut memang harganya sebanding sehingga anda bisa mendapatkan rumah lebih cepat.

  1. Membeli Rumah KPR Syari’ah

Anda bisa memiliki rumah dengan sistem KPR atau kredit tetapi membeli yang syariah karena sekarang banyak developer yang menjual rumah dengan sistem KPR Syariah. Jadi anda tidak perlu membayar bunga setiap bulan nya, serta tidak ada sita dalam perjanjian.

Sistem syariah ini sekarang sedang banyak disukai masyarakat karena selain lebih ringan, anda bisa mengangsur uang tersebut. Tidak perlu menabung terlalu lama karena anda bisa mendapatkan rumah sambil bekerja dan melunasi kekurangan tersebut.

  1. Bangun Rumah Sendiri Secara Bertahap

Anda juga bisa memiliki rumah dengan cara membuat rumah sendiri tetapi membeli bahan-bahan rumah secara bertahap. Jika anda menabung uang mungkin akan habis karena kebutuhan sehari-hari, tetapi akan berbeda jika anda membangun rumah secara bertahap membeli bahan-bahan nya.

Misalnya bulan pertama membeli batu bata, kedua membeli semen dan lain-lain, dengan begitu anda tidak perlu membeli rumah secara cash. Membangun rumah seperti ini memang butuh waktu lama, tetapi anda tidak perlu memikirkan uang bulanan yang harus dibayar karena anda hanya membeli bahan sesuai kebutuhan dan kesanggupan anda.

  1. Menabung Emas

Jika anda termasuk orang yang tidak bisa menabung uang, sebaiknya anda menabung emas saja agar anda tidak menggunakan nya. Setelah emas tersebut terkumpul banyak, anda bisa menjualnya dan membelikan rumah sekaligus agar bisa utuh.

Biasanya seseorang sulit menabung, apalagi jika banyak kebutuhan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sehingga uang tabungan selalu terambil. Karena itulah anda perlu menabung dalam bentuk barang, itu akan lebih memudahkan anda untuk tidak menggunakan nya terlebih anda harus menjualnya lebih dulu untuk bisa menggunakan nya.

Itulah beberapa cara anda untuk mendapatkan rumah sebagai solusi rumah tanpa riba yang bisa anda coba. Biasanya developer memilih untuk kredit rumah sistem bank, tetapi anda cari saja developer rumah tanpa riba dengan sistem KPR Syari’ah agar lebih menguntungkan bagi anda, terima kasih. (lie)

Inilah Rukun Puasa Ramadhan Yang Perlu Diketahui

Inilah Rukun Puasa Ramadhan Yang Perlu Diketahui

Bumitahfidz.co.idTerdapat sebagian orang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, baik kendaraan pribadi lebih-lebih kendaraan umum. Dan, hal ini dia alami juga pada saat melaksanakan puasa. Ketika dia naik kendaraan untuk kepentingan dan keperluan tertentu saat berpuasa, dia akan muntah. Dalam keadaan demikian, apakah puasanya batal?

Dalam kitab Taqrib disebutkan bahwa ada empat hal yang menjadi rukun atau fardhu puasa, yaitu melakukan niat di waktu malam, menahan diri dari makan dan minum, menahan diri dari jima’, dan menahan diri dari sengaja muntah. Jika empat rukun atau fardhu ini terpenuhi, maka puasa dinilai sah. (Baca: Doa Naik Kendaraan)

Syaikh Abu Syuja’ berkata dalam kitab Taqrib sebagai berikut;

وفرائض الصوم أربعة أشياء النية والإمساك عن الأكل والشرب والجماع وتعمد القيئ

Fardhu (rukun) puasa itu ada empat hal; niat, menahan diri dari makan dan minum, menahan diri dari jima’, dan menahan diri dari sengaja muntah.

Mengenai seseorang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, maka dia dianggap tidak sengaja untuk muntah. Meski dia tahu bahwa akan muntah jika naik kendaraan saat berpuasa, dia tetap tidak dinilai sengaja untuk muntah karena muntah tersebut terjadi bukan pilihan dirinya.

Oleh karena itu, jika dia naik kendaraan saat berpuasa dan kemudian muntah, maka puasanya tidak batal, dan dia tidak perlu mengganti puasanya setelah bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana  hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

Barangsiapa terdorong untuk muntah, maka tidak ada qadha baginya, dan barangsiapa yang sengaja muntah, maka hendaknya mengqadha.

Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, maksud terdorong muntah adalah muntah bukan disebabkan pilihan dan keinginan dirinya sendiri, akan tetapi karena terpaksa muntah. Beliau berkata sebagai berikut;

وذرعه اي خرج من غير اختيار منه

Terdorong muntah maksudnya adalah muntah tersebut keluar bukan pilihan dari dirinya sendiri.

Dengan demikian, orang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, kemudian saat berpuasa naik kendaraan dan muntah, maka puasanya tetap sah, tidak batal. Hal ini karena muntah tersebut keluar bukan pilihan dari dirinya, melainkan keluar dengan terpaksa dan tanpa disengaja. (lie)

Hukum Baca Doa Qunut Di Bulan Ramadhan

Hukum Baca Doa Qunut Di Bulan Ramadhan

Bumitahfidz.co.id – Sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan, kita disunnahkan untuk membaca doa qunut dalam shalat witir. Sebagaimana sering terjadi dalam shalat Shubuh, terkadang kita lupa tidak melakukan qunut dalam shalat witir. Ketika lupa tidak qunut shalat witir, apakah dianjurkan sujud sahwi, sebagaimana lupa tidak qunut dalam shalat Shubuh? (Baca: Bacaan Qunut Witir Ramadhan Lengkap Arab, Latin, dan Terjemah)

Membaca doa qunut dalam shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan hukumnya adalah sunnah. Para sahabat, di antaranya Ibnu Umar, Ubay bin Ka’ab senantiasa membaca qunut dalam shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Abu Daud berikut;

أن عمر بن الخطاب جمع الناس على أبي بن كعب فكان يصلي لهم عشرين ليلة ولا يقنت الا في النصف الباقى من رمضان.

Sesungguhnya Umar bin Khattab mengumpulkan masyarakat agar shalat tarawih bersama (dengan imam) Ubay Ibn Ka’ab, maka beliau shalat tarawih bersama mereka selama 20 malam, dan beliau tidak berdoa qunut kecuali dalam separuh yang kedua dari bulan Ramadhan.

Berdasarkan riwayat ini dan sejenisnya, maka Imam Syafii dan ulama Syafiiyah berpendapat bahwa disunnahkan dan dianjurkan membaca doa qunut dalam shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

وَالْمَذْهَبُ أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَقْنُتَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الْوِتْرِ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ

Menurut pendapat madzhab, bahwa sesungguhnya disunnahkan membaca doa qunut di rakaat terakhir shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii dan ditegaskan oleh Imam Syafii.

Karena disunnahkan dan dianjurkan, maka jika kita meninggalkannya, baik karena lupa atau sengaja, maka kita dianjurkan melakukan sujud sahwi, seperti halnya ketika kita lupa tidak qunut dalam shalat Shubuh. Dalam kitab Al-Majmu, Imam Nawawi berkata;

قَالَ وَلَوْ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي مَوْضِعٍ اسْتَحَبَّهُ سَجَدَ لِلسَّهْوِ

Imam Syafii berkata; Jika seseorang meninggalkan qunut di tempat yang disunnahkan melakukan qunut, maka dia hendaknya sujud sahwi. (lie-bs)

Goresan Pena Santriwati Tebuireng

Goresan Pena Santriwati Tebuireng

Bumitahfidz.co.id

Oleh: Fatimatuz Zahra*

Kertasku mulai layu
Tintaku mengering termakan waktu
Pikiranku buntu
Tak temukan jalan untuk berlalu

Hurufku tak kunjung jadi kata
Kata-kataku tak bisa dieja
Kalimatku tak miliki makna
Aku kalut tak tau akan menulis apa

Semakin keras aku berpikir
Tak satu pun ide bersedia untuk mampir
Jemari tanganku masih terdiam dan kaku
Kertas dan tinta masih urung bertemu

Tanpa air mata aku menangis
Butiran peluh mengalir basahi pelipis
Dalam pekat malam yang perlahan mengikis
Aku bertanya kapan aku bisa mulai menulis?


*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Sumber gambar: https://agenda18.web.id

Menyikapi Pemahaman Pluralisme

Menyikapi Pemahaman Pluralisme

Bumitahfidz.co.id – Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) bekerja sama dengan Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta berhasil menggelar acara Bedah Buku “Tafsir Al-Misbah dalam Sorotan” pada Kamis (07/11/19) kemarin di Aula H.A.R Partosentono Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Hadir sebagai narasumber Afrizal Nur (penulis buku, dosen UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Riau), Muchlis M. Hanafi (Ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an/Dewan Pakar PSQ Jakarta), Izza Rahman (Dosen UHAMKA Jakarta) dan Eva Nugraha (dosen UIN Jakarta) selaku moderator acara.

Yusuf Rahman yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya acara. “kajian akademik memang perlu ditanggapi secara akademik”, ujarnya.   

Pada sesi pemaparan narasumber Afrizal Nur selaku penulis buku mengulas tiga topik utama yang dikritisi dari Tafsir Al-Misbah yaitu seputar posisi Rasulullah dalam kasus hukum, indikasi syiah, dan paham pluralisme agama. Pada kasus hukum, dosen UIN Suska Riau ini menyayangkan keterangan dalam Tafsir Al-Misbah Keputusan Rasul selaku Hakim secara formal pasti benar, tetapi secara material belum tentu. Alasannya dengan keterangan ini, menurut Afrizal, Tafsir Al-Misbah dapat menyesatkan para pembaca awam.

Afrizal Nur juga mempermasalahkan pengutipan Tafsir Al-Mizan karya al-Tabataba’i dalam Tafsir Al-Misbah. Menurutnya, tafsir syiah tidak sepatutnya dikutip. Apalagi al-Tabataba’i diindikasikan tokoh syiah yang paling banyak mempraktikkan nikah mut’ah. Terakhir terkait dengan penjelasan Q.S al-Mudatsir ayat 4, Afrizal juga menyesalkan keterangan dalam Tafsir Al-Misbah bahwa semua agama mengajarkan kebersihan batin.

Menanggapi buku yang berasal dari disertasi Afrizal Nur di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun 2013, Muchlis M. Hanafi menuliskan surat terbuka beserta catatan kritis sebanyak 67 halaman. Muchlis mengatakan bahwa sedikitnya terdapat dua kekeliruan mendasar yaitu dari sisi metodologis dan substansi. Muchlis menyayangkan buku yang berasal disertasi dengan judul Kajian Analitikal Terhadap Pengaruh Negatif dalam Tafsir Al-Misbah ini tidak disertai metode dan langkah-langkah penelitian di dalamnya.

Bagaimana kita mengukur pengaruh negatif? Apakah ada penelitian tentang pengaruh negatif Tafsir Al-Misbah? Mengapa dibatasi lima kitab karya Ibnu Katsir, Abdurrahman al-Sa’di, Abu Bakar al-Jazairi, Ali Al-Shabuni, dan HAMKA untuk menghakimi Tafsir Al-Misbah? Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini dilontarkan Muchlis pada pemaparannya tentang metodologi.

Dari segi substansi, menanggapi soal posisi Rasulullah, Muchlis menjelaskan bahwa kajian seperti ini sudah banyak dilakukan para ulama baik terdahulu maupun kontemporer. “Terkait dengan Tasharrufat al-Rasul ini, Imam al-Nawawi, Shah Waliyullah al-Dihlawi, al-Qarafi, Syekh Mahmud Syaltut, bahkan Yusuf al-Qardawi sudah mengulas ini dengan komprehensif,” tegasya.

Masalah Tafsir Al-Misbah mengutip al-Tabataba’i, Muchlis mengatakan bahwa apa yang dikutip ini adalah terkait dengan aspek kebahasaan, makna filosofis ayat dan sebagainya. Bukan pada aspek-aspek  terkait akidah Syi’ah maupun praktek fikihnya seperti nikah mut’ah. “Tidak hanya mengutip, Pak Quraish juga mengkritisi tafsir yang dikutipnya. Seperti dalam ayat ‘Abasa wa Tawalla, beliau mengkritik pendapat al-Tabataba’i,” pungkas alumnus Universitas Al-Azhar dari S1 sampai S3 ini.

Izza Rahman sebagai narasumber ketiga mengapresiasi pernyataan Afrizal dalam buku yang mengakui bahwa Tafsir Al-Misbah adalah karya tafsir terbesar di Indonesia saat ini. Selain mengapresiasi, Izza Rahman banyak menyodorkan fakta-fakta dengan mengkomparasikan Tafsir Al-Misbah dengan Tafsir Al-Mizan karya al-Tabataba’I juga menyandingkan posisi Quraish Shihab dengan Hamka.

“Buya Hamka dalam tafsirnya mengatakan meskipun terdapat perbedaan kepercayaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah, tetapi dalam hal pengetahuan amat sempit jika tidak mau peduli hanya karena kesyiahan. Pengetahuan bersifat universal karena milik manusia bersama,” kata Izza Rahman menjelaskan posisi Hamka seperti Quraish Shihab.

Pada sesi komentar dan tanya jawab, Media Zainul Bahri berpendapat bahwa faktor sosiologis mungkin berpengaruh terhadap produk keilmuan melihat karya Afrizal Nur. “Indonesia seperti Mesir, dengan kondisi masyarakat yang majemuk, ragam kultur yang berbaur memungkinkan karya tafsir seperti Al-Misbah yang menghargai perbedaan,  sedangkan Malaysia yang elit-elit politiknya dikuasai muslim eksklusif, lebih cocok belajar untuk memperkuat akidah disana,” terang wakil dekan bidang kemahasiswaan ini.

Media menyoroti kekeliruan Afrizal Nur dalam memahami pluralisme. Menurutnya dengan mengatakan ada kebaikan dalam agama lain, Quraish Shihab berposisi sebagai mufassir yang menghargai pluralitas agama, bukan berpaham pluralisme. “Pluralisme agama itu meyakini bahwa orang-orang baik dari agama lain juga akan masuk surga,” katanya.

Acara yang berlangsung cukup meriah ini, selain dipadati mahasiswa dari UIN Jakarta juga dihadiri oleh mahasiwa PPL yang sedang berkegiatan di PSQ dari Ma’had Aly As’adiyah Sulawesi Selatan dan mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan. Santri Bait Quran PSQ pun turut serta hadir sebagai peserta acara. (lie)

Sejarah Kopi dalam Penyebaran Agama Islam di Seluruh Dunia

Sejarah Kopi dalam Penyebaran Agama Islam di Seluruh Dunia

Bumitahfidz.co.idKopi memiliki sejarah penting dalam penyebaran agama Islam di seluruh dunia (Baca: Jejak Kopi dalam Penyebaran Islam). Ulama pun mempunyai perhatian khusus membahas kopi. Salah satunya Syekh Abdullah al-Haddad dalam kitab Tatsbitul Fu’ad juz 2 halaman 13 menyebutkan doa meminum kopi sebagaimana berikut,

ورأيت مكتوبا عنه رضي الله عنه: أنه يرتب قراءة الفاتحة وآية الكرسي مع شرب قهوة الصبح، والفاتحة، ولإيلاف قريش، وإنا أعطيناك الكوثر، وقل هو الله أحد مع شرب قهوة الظهر، ومع شرب قهوة السحر خاصة يا قوي 116 مرة كما هو المأثور،  وفي غير ذلك الفاتحة فقط، ومع آية الكرسي في الغالب

Saya melihat tertulis darinya bahwa penertiban membaca surah al-Fatihah, ayat Kursi itu dibaca saat meminum kopi waktu Subuh. Sementara itu, surah Quraisy, al-Kautsar, dan al-Ikhlas dibaca saat meminum kopi waktu Zuhur. Sementara itu, meminum kopi saat waktu Sahur itu khusus membaca Ya Qowiyyu ya Matin sebanyak 116 kali sebagaimana yang terdapat dalam riwayat tertulis (ma’tsur). Di selain waktu (ketiga) tersebut, cukup membaca al-Fatihah atau ditambah ayat Kursi. 

Dari paparan di atas dapat dipahami beberapa hal.

Meminum Kopi di Waktu Subuh

Pertama, membaca surah al-Fatihah. Kedua, membaca ayat al-Kursi.

Meminum Kopi di Waktu Zuhur

Pertama, membaca surah al-Fatihah. Kedua, membaca surah QuraisyKetiga, membaca surah al-Kautsar.

Meminum Kopi di Waktu Sahur

Membaca ya qowiyyu sebanyak 116 kali.

Di Luar Tiga Waktu Tersebut 

Membaca surah al-Fatihah atau ditambah ayat Kursi. Wallahualam bis sawab. (Lie)

Amalan Untuk Wanita Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Amalan Untuk Wanita Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Bumitahfidz.co.idSecara umum, ketika seorang wanita sedang haid atau nifas maka ia tidak diperbolehkan untuk berpuasa, salat, thawaf di Baitullah, i’tikaf di masjid, dan membaca al-Qur’an dan menyentuhnya.

Padahal di sisi lain, pada 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah dan menghidupkan malamnya dengan berbagai ibadah utama seperti yang dilarang di atas, lantas amalan apa saja yang mungkin dan bisa dilakukan perempuan haid pada malam Ramadhan?

Para ulama telah menjelaskan bahwa perempuan tetap bisa memperoleh kemuliaan lailatul qadar dengan amalan-amalan lain yang pahalanya setara dengan amalan-amalan utama di atas, baik amalannya bersifat individual maupun sosial.

Di antara amalan individual yang bisa dilakukan adalah memperbanyak zikir, istighfar, dan doa-doa kebaikan kepada Allah Swt, karena berdoa sejatinya adalah substansi dari ibadah.

Sedangkan amalan sosial yang bisa dilakukan adalah menyantuni orang-orang miskin, menyiapkan makan sahur mereka yang sedang i’tikaf, dan lain sebagainya. Allahu A’lam