Inilah Rukun Puasa Ramadhan Yang Perlu Diketahui

Inilah Rukun Puasa Ramadhan Yang Perlu Diketahui

Bumitahfidz.co.idTerdapat sebagian orang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, baik kendaraan pribadi lebih-lebih kendaraan umum. Dan, hal ini dia alami juga pada saat melaksanakan puasa. Ketika dia naik kendaraan untuk kepentingan dan keperluan tertentu saat berpuasa, dia akan muntah. Dalam keadaan demikian, apakah puasanya batal?

Dalam kitab Taqrib disebutkan bahwa ada empat hal yang menjadi rukun atau fardhu puasa, yaitu melakukan niat di waktu malam, menahan diri dari makan dan minum, menahan diri dari jima’, dan menahan diri dari sengaja muntah. Jika empat rukun atau fardhu ini terpenuhi, maka puasa dinilai sah. (Baca: Doa Naik Kendaraan)

Syaikh Abu Syuja’ berkata dalam kitab Taqrib sebagai berikut;

وفرائض الصوم أربعة أشياء النية والإمساك عن الأكل والشرب والجماع وتعمد القيئ

Fardhu (rukun) puasa itu ada empat hal; niat, menahan diri dari makan dan minum, menahan diri dari jima’, dan menahan diri dari sengaja muntah.

Mengenai seseorang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, maka dia dianggap tidak sengaja untuk muntah. Meski dia tahu bahwa akan muntah jika naik kendaraan saat berpuasa, dia tetap tidak dinilai sengaja untuk muntah karena muntah tersebut terjadi bukan pilihan dirinya.

Oleh karena itu, jika dia naik kendaraan saat berpuasa dan kemudian muntah, maka puasanya tidak batal, dan dia tidak perlu mengganti puasanya setelah bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana  hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

Barangsiapa terdorong untuk muntah, maka tidak ada qadha baginya, dan barangsiapa yang sengaja muntah, maka hendaknya mengqadha.

Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, maksud terdorong muntah adalah muntah bukan disebabkan pilihan dan keinginan dirinya sendiri, akan tetapi karena terpaksa muntah. Beliau berkata sebagai berikut;

وذرعه اي خرج من غير اختيار منه

Terdorong muntah maksudnya adalah muntah tersebut keluar bukan pilihan dari dirinya sendiri.

Dengan demikian, orang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, kemudian saat berpuasa naik kendaraan dan muntah, maka puasanya tetap sah, tidak batal. Hal ini karena muntah tersebut keluar bukan pilihan dari dirinya, melainkan keluar dengan terpaksa dan tanpa disengaja. (lie)

Hukum Baca Doa Qunut Di Bulan Ramadhan

Hukum Baca Doa Qunut Di Bulan Ramadhan

Bumitahfidz.co.id – Sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan, kita disunnahkan untuk membaca doa qunut dalam shalat witir. Sebagaimana sering terjadi dalam shalat Shubuh, terkadang kita lupa tidak melakukan qunut dalam shalat witir. Ketika lupa tidak qunut shalat witir, apakah dianjurkan sujud sahwi, sebagaimana lupa tidak qunut dalam shalat Shubuh? (Baca: Bacaan Qunut Witir Ramadhan Lengkap Arab, Latin, dan Terjemah)

Membaca doa qunut dalam shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan hukumnya adalah sunnah. Para sahabat, di antaranya Ibnu Umar, Ubay bin Ka’ab senantiasa membaca qunut dalam shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Abu Daud berikut;

أن عمر بن الخطاب جمع الناس على أبي بن كعب فكان يصلي لهم عشرين ليلة ولا يقنت الا في النصف الباقى من رمضان.

Sesungguhnya Umar bin Khattab mengumpulkan masyarakat agar shalat tarawih bersama (dengan imam) Ubay Ibn Ka’ab, maka beliau shalat tarawih bersama mereka selama 20 malam, dan beliau tidak berdoa qunut kecuali dalam separuh yang kedua dari bulan Ramadhan.

Berdasarkan riwayat ini dan sejenisnya, maka Imam Syafii dan ulama Syafiiyah berpendapat bahwa disunnahkan dan dianjurkan membaca doa qunut dalam shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

وَالْمَذْهَبُ أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَقْنُتَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الْوِتْرِ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ

Menurut pendapat madzhab, bahwa sesungguhnya disunnahkan membaca doa qunut di rakaat terakhir shalat witir sejak pertengahan akhir bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii dan ditegaskan oleh Imam Syafii.

Karena disunnahkan dan dianjurkan, maka jika kita meninggalkannya, baik karena lupa atau sengaja, maka kita dianjurkan melakukan sujud sahwi, seperti halnya ketika kita lupa tidak qunut dalam shalat Shubuh. Dalam kitab Al-Majmu, Imam Nawawi berkata;

قَالَ وَلَوْ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي مَوْضِعٍ اسْتَحَبَّهُ سَجَدَ لِلسَّهْوِ

Imam Syafii berkata; Jika seseorang meninggalkan qunut di tempat yang disunnahkan melakukan qunut, maka dia hendaknya sujud sahwi. (lie-bs)

Tips Selalu Sehat di Bulan Rumadhan

Tips Selalu Sehat di Bulan Rumadhan

Bumitahfidz.co.id Dalam buku “Hikmah Puasa Perspektif Medis” yang ditulis oleh Dr. Agus Rahmadi bekerjasama dengan tim penelitian el-Bukhari Institute dikatakan, bahwa biasanya ketika dalam keadaan lapar saat berpuasa ramadhan, perlahan secara alami cadangan gula darah/glukagon dalam tubuh akan diaktifkan.

Namun, glukagon yang terbatas tidak mampu mengkaver seluruh kebutuhan energi. Itu sebabnya dilarang untuk berpuasa sehari semalam, atau dalam khazanah fikih dikenal sebagai puasa wishaal (menyambung).

Penjelasan diatas jadi contoh bahwa Nabi Saw. sendiri melarang berpuasa yang berlebih-lebihan. Sikap berlebih-lebihan dalam berpuasa justru akan membuat manusia menjadi lemah dan tidak produktif. Berpuasalah sesuai kadarnya sehingga membuat tubuh menjadi sehat.

Beberapa tips puasa sehat seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. diantaranya adalah sebagai berikut:

1- Tetap Makan Sahur

Sahur sangat bermanfaat untuk menyiapkan cadangan energi bagi tubuh saat menjalani puasa. Dalam sebuah hadis yang diiwayatkan oleh Anas bin Malik Ra.:

«تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً»

“Makan sahurlah, sesungguhnya di dalam sahur terdapat keberkahan”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh banyak ulama hadis, misalnya al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Nasai, dan Ibn Majah. Karena riwayat al-Bugakhari dan Muslim sama-sama bersumber dari Anas bin Malik, dalam disiplin ilmu hadis dikenal sebagai muttafaqun ‘alaih. Artinya, keduanya sebagai penyusun kitab hadis yang dipastikan paling sahih dari masa ke masa sepakat dengan redaksi riwayat hadis ini.

Keberkahan sahur digambarkan tidak hanya tentang bangunnya kita di waktu yang mustajab, namun juga segi fisik seperti makan untuk persiapan puasa.

Dalam praktiknya, Rasulullah Saw. biasa makan sahur di waktu yang dekat waktu subuh. Begitu dekatnya, seperti digambarkan oleh Zaid bin Tsabit Ra. jarak antara sahur dan shalat subuh hanya sekitar membaca 50 ayat Quran. Hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari,

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit Ra. beliau berkata: “Kami sahur bersama Rasulullah Saw. kemudian melaksanakan shalat. Aku (Anas bin Malik) bertanya: berapa jaraknya antara azan dan sahur ? Zaid berkata: sekitar lima puluh ayat.”

Menurut Ibn Hajar dalam Fath al-Baari, ukuran lima puluh ayat adalah bagian dari kultur masyarakat arab untuk mengukur sesuatu, seperti dengan seberapa lama pekerjaan dikerjakan. Lima puluh ayat adalah simbol kalau jarak antara sahur dengan shalat subuh tidak terlalu lama.

Hal ini, jelas Ibnu Hajar, adalah salah satu kearifan Nabi Saw. Jika sahur diwajibkan di tengah malam atau ditiadakan sama sekali, ini akan membuat umatnya sulit melaksanakan puasa karena alasan mengantuk.

Sebagai penutup, Nabi Saw. bahkan menyatakan bahwa yang membedakan antara puasa umat Islam dengan puasa ahlul kitab adalah melakukan sahur. Seperti hadis yang diriwayatkan al-Nasa’i dari ‘Amr bin al-‘Ash,

عن عمرو بن العاص قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحور

Dari ‘Amr bin al-‘Ash, beliau berkata: Rasulullah Saw. bersabda: perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah dengan makan sahur.

2- Berbuka Puasa dengan Air Putih dan Makanan Manis

Setelah seharian penuh tidak mengkonsumsi apapun, tubuh yang telah diprogram untuk berpuasa tersebut dalam kondisi relaksasi. Dalam sebuah penelitian medis, disarankan untuk membatalkan puasa dengan meminum air putih dan makan makanan yang mengandung karbohidrat/zat gula.

Zat gula berkontribusi untuk mengembalikan energi tubuh yang hilang saat berpuasa. Dalam penelitian tersebut juga direkomendasikan untuk tidak memakan makanan yang berminyak atau memiliki suhu yang ekstrim, seperti panas atau dingin.

Tanpa bermasuk mencocok-cocokkan, rupanya dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, al-Tirmidzi, dan Abu Ya’la. Rasulullah Saw. juga merekomendasikan hal yang serupa, makan kurma 3 buah saja dan tidak mengkonsumsi makanan yang dimasak dengan api.

Hadisnya diriwayatkan Abu Ya’la dari sahabat Anas bin Malik Ra.:

وَعَن أَنَسٍ ، رَضِيَ الله عَنْهُ , قَالَ : كَانَ رَسُولُ الل صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يُحِبُّ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى ثَلاَثِ تَمْرَاتٍ ، أَوْ شَيْءٍ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ

Dari Anas bin Malik Ra. beliau berkata: “Dulu Rasulullah Saw. suka berbuka puasa dengan tiga buah kurma, atau makanan lain yang tidak tersentuh api”
Abu Ya’la menilai kalau seluruh periwayat hadis ini adalah orang-orang terpercaya.

Ditinjau dari segi medis, makanan yang mengandung zat gula memang dapat mendongkrak jumlah energi dalam tubuh yang hilang selama berpuasa.

3- Mengatur Pola Makan Saat Berbuka

Di saat berbuka, terkadang kita sering lupa mengendalikan diri dalam mengkonsumsi makanan untuk berbuka. Dengan tersedianya berbagai macam makanan yang mengenakkan lidah katakanlah seperti sirop, kolak, gorengan, kue, ayam goreng, dan makanan enak lain benar-benar membangkitkan selera. Apalagi perut dalam keadaan lapar.

Perilaku ini kurang baik. Kita harus mengingat kembali bahwa tujuan disyariatkannya puasa seperti yang disebutkan dalam surah al-Baqarah: 183, agar kita menjadi orang bertaqwa. Sikap orang bertaqwa ditunjukkan diantaranya dengan kemampuan mengendalikan hawa nafsu.

Karena itu secara medis direkomendasikan agar seseorang memulai dengan meminum air putih atau mengkonsumsi makanan yang manis, seperti kurma. Ini selaras dengan hadis yang diriwayatkan. Tidak disarankan untuk makan makanan yang berminyak, atau makanan yang manis hasil dari pengawet dan penguat rasa, seperti sirup.

Hal itu berpotensi menimbulkan problem di dalam tubuh seperti batuk atau mengantuk karena terlalu banyak makanan. Selain itu, makanan yang dapat memicu asam lambung seperti sangat pedas atau sangat asam di saat berbuka dapat menimbulkan penyakit maag.

Selain itu, direkomendasikan juga agar tidak langsung mengkonsumsi makanan berat terlalu banyak setelah shalat maghrib.

Pasalnya, lambung perlu penyesuaian untuk bekerja lebih berat setelah seharian beristirahat. Itu mengapa banyak orang yang mengeluh mengantuk setelah makan berat saat berbuka puasa karena lambungnya langsung dipaksa mengolah makanan dalam jumlah yang banyak. Wallahualam.

Goresan Pena Santriwati Tebuireng

Goresan Pena Santriwati Tebuireng

Bumitahfidz.co.id

Oleh: Fatimatuz Zahra*

Kertasku mulai layu
Tintaku mengering termakan waktu
Pikiranku buntu
Tak temukan jalan untuk berlalu

Hurufku tak kunjung jadi kata
Kata-kataku tak bisa dieja
Kalimatku tak miliki makna
Aku kalut tak tau akan menulis apa

Semakin keras aku berpikir
Tak satu pun ide bersedia untuk mampir
Jemari tanganku masih terdiam dan kaku
Kertas dan tinta masih urung bertemu

Tanpa air mata aku menangis
Butiran peluh mengalir basahi pelipis
Dalam pekat malam yang perlahan mengikis
Aku bertanya kapan aku bisa mulai menulis?


*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Sumber gambar: https://agenda18.web.id

Menyikapi Pemahaman Pluralisme

Menyikapi Pemahaman Pluralisme

Bumitahfidz.co.id – Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) bekerja sama dengan Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta berhasil menggelar acara Bedah Buku “Tafsir Al-Misbah dalam Sorotan” pada Kamis (07/11/19) kemarin di Aula H.A.R Partosentono Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Hadir sebagai narasumber Afrizal Nur (penulis buku, dosen UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Riau), Muchlis M. Hanafi (Ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an/Dewan Pakar PSQ Jakarta), Izza Rahman (Dosen UHAMKA Jakarta) dan Eva Nugraha (dosen UIN Jakarta) selaku moderator acara.

Yusuf Rahman yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya acara. “kajian akademik memang perlu ditanggapi secara akademik”, ujarnya.   

Pada sesi pemaparan narasumber Afrizal Nur selaku penulis buku mengulas tiga topik utama yang dikritisi dari Tafsir Al-Misbah yaitu seputar posisi Rasulullah dalam kasus hukum, indikasi syiah, dan paham pluralisme agama. Pada kasus hukum, dosen UIN Suska Riau ini menyayangkan keterangan dalam Tafsir Al-Misbah Keputusan Rasul selaku Hakim secara formal pasti benar, tetapi secara material belum tentu. Alasannya dengan keterangan ini, menurut Afrizal, Tafsir Al-Misbah dapat menyesatkan para pembaca awam.

Afrizal Nur juga mempermasalahkan pengutipan Tafsir Al-Mizan karya al-Tabataba’i dalam Tafsir Al-Misbah. Menurutnya, tafsir syiah tidak sepatutnya dikutip. Apalagi al-Tabataba’i diindikasikan tokoh syiah yang paling banyak mempraktikkan nikah mut’ah. Terakhir terkait dengan penjelasan Q.S al-Mudatsir ayat 4, Afrizal juga menyesalkan keterangan dalam Tafsir Al-Misbah bahwa semua agama mengajarkan kebersihan batin.

Menanggapi buku yang berasal dari disertasi Afrizal Nur di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun 2013, Muchlis M. Hanafi menuliskan surat terbuka beserta catatan kritis sebanyak 67 halaman. Muchlis mengatakan bahwa sedikitnya terdapat dua kekeliruan mendasar yaitu dari sisi metodologis dan substansi. Muchlis menyayangkan buku yang berasal disertasi dengan judul Kajian Analitikal Terhadap Pengaruh Negatif dalam Tafsir Al-Misbah ini tidak disertai metode dan langkah-langkah penelitian di dalamnya.

Bagaimana kita mengukur pengaruh negatif? Apakah ada penelitian tentang pengaruh negatif Tafsir Al-Misbah? Mengapa dibatasi lima kitab karya Ibnu Katsir, Abdurrahman al-Sa’di, Abu Bakar al-Jazairi, Ali Al-Shabuni, dan HAMKA untuk menghakimi Tafsir Al-Misbah? Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini dilontarkan Muchlis pada pemaparannya tentang metodologi.

Dari segi substansi, menanggapi soal posisi Rasulullah, Muchlis menjelaskan bahwa kajian seperti ini sudah banyak dilakukan para ulama baik terdahulu maupun kontemporer. “Terkait dengan Tasharrufat al-Rasul ini, Imam al-Nawawi, Shah Waliyullah al-Dihlawi, al-Qarafi, Syekh Mahmud Syaltut, bahkan Yusuf al-Qardawi sudah mengulas ini dengan komprehensif,” tegasya.

Masalah Tafsir Al-Misbah mengutip al-Tabataba’i, Muchlis mengatakan bahwa apa yang dikutip ini adalah terkait dengan aspek kebahasaan, makna filosofis ayat dan sebagainya. Bukan pada aspek-aspek  terkait akidah Syi’ah maupun praktek fikihnya seperti nikah mut’ah. “Tidak hanya mengutip, Pak Quraish juga mengkritisi tafsir yang dikutipnya. Seperti dalam ayat ‘Abasa wa Tawalla, beliau mengkritik pendapat al-Tabataba’i,” pungkas alumnus Universitas Al-Azhar dari S1 sampai S3 ini.

Izza Rahman sebagai narasumber ketiga mengapresiasi pernyataan Afrizal dalam buku yang mengakui bahwa Tafsir Al-Misbah adalah karya tafsir terbesar di Indonesia saat ini. Selain mengapresiasi, Izza Rahman banyak menyodorkan fakta-fakta dengan mengkomparasikan Tafsir Al-Misbah dengan Tafsir Al-Mizan karya al-Tabataba’I juga menyandingkan posisi Quraish Shihab dengan Hamka.

“Buya Hamka dalam tafsirnya mengatakan meskipun terdapat perbedaan kepercayaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah, tetapi dalam hal pengetahuan amat sempit jika tidak mau peduli hanya karena kesyiahan. Pengetahuan bersifat universal karena milik manusia bersama,” kata Izza Rahman menjelaskan posisi Hamka seperti Quraish Shihab.

Pada sesi komentar dan tanya jawab, Media Zainul Bahri berpendapat bahwa faktor sosiologis mungkin berpengaruh terhadap produk keilmuan melihat karya Afrizal Nur. “Indonesia seperti Mesir, dengan kondisi masyarakat yang majemuk, ragam kultur yang berbaur memungkinkan karya tafsir seperti Al-Misbah yang menghargai perbedaan,  sedangkan Malaysia yang elit-elit politiknya dikuasai muslim eksklusif, lebih cocok belajar untuk memperkuat akidah disana,” terang wakil dekan bidang kemahasiswaan ini.

Media menyoroti kekeliruan Afrizal Nur dalam memahami pluralisme. Menurutnya dengan mengatakan ada kebaikan dalam agama lain, Quraish Shihab berposisi sebagai mufassir yang menghargai pluralitas agama, bukan berpaham pluralisme. “Pluralisme agama itu meyakini bahwa orang-orang baik dari agama lain juga akan masuk surga,” katanya.

Acara yang berlangsung cukup meriah ini, selain dipadati mahasiswa dari UIN Jakarta juga dihadiri oleh mahasiwa PPL yang sedang berkegiatan di PSQ dari Ma’had Aly As’adiyah Sulawesi Selatan dan mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan. Santri Bait Quran PSQ pun turut serta hadir sebagai peserta acara. (lie)

Amalan Untuk Wanita Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Amalan Untuk Wanita Haid di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Bumitahfidz.co.idSecara umum, ketika seorang wanita sedang haid atau nifas maka ia tidak diperbolehkan untuk berpuasa, salat, thawaf di Baitullah, i’tikaf di masjid, dan membaca al-Qur’an dan menyentuhnya.

Padahal di sisi lain, pada 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah dan menghidupkan malamnya dengan berbagai ibadah utama seperti yang dilarang di atas, lantas amalan apa saja yang mungkin dan bisa dilakukan perempuan haid pada malam Ramadhan?

Para ulama telah menjelaskan bahwa perempuan tetap bisa memperoleh kemuliaan lailatul qadar dengan amalan-amalan lain yang pahalanya setara dengan amalan-amalan utama di atas, baik amalannya bersifat individual maupun sosial.

Di antara amalan individual yang bisa dilakukan adalah memperbanyak zikir, istighfar, dan doa-doa kebaikan kepada Allah Swt, karena berdoa sejatinya adalah substansi dari ibadah.

Sedangkan amalan sosial yang bisa dilakukan adalah menyantuni orang-orang miskin, menyiapkan makan sahur mereka yang sedang i’tikaf, dan lain sebagainya. Allahu A’lam

ahmadiyah

ahmadiyah

bumitahfidz.co.id Kali ini saya berkesempatan untuk berkunjung ke masjid Jemaah Ahmadiyah di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan dalam acara Jalsah Salanah atau pertemuan tahunan yang rutin dilaksanakan oleh Jemaah Ahmadiyah. Salah satu komunitas Ahmadiyah yang ada di Indonesia.

Pertemuan antar Ahmadi (anggota Ahmadiyah) ini memang rutin dilaksanakan. Ada yang mingguan, bulanan atau tahunan. Ada yang dilaksanakan di daerah, provinsi, negara, hingga pertemuan internasional yang mempertemukan Jemaah Ahmadiyah yang tersebar di ratusan negara. Mereka sangat kokoh menjaga nilai-nilai persaudaraan dan kesatuan.

Jalsah Salanah yang saya ikuti ini merupakan pertemuan anggota Ahmadiyah sejakarta. Tema yang diangkat adalah “Cinta Tanah Air Adalah Bagian dari Iman”. Saya cukup senang sekaligus terenyuh melihat tema yang tertulis dalam banner besar di depan saya, tentu saja karena saya dan mungkin teman-teman ketahui, negara bahkan belum sempat memenuhi hak mereka sebagai sebuah kelompok atau komunitas.

Bersama teman-teman dari Lembaga Studi Agama dan Filsafat, saya berkunjung pada hari kedua dari tiga hari yang diselenggarakan. Kita disambut dengan sangat hangat dan bersahaja oleh jamaahnya.

Acara ini juga dihadiri oleh Omi Nurcholish Madjid, istri dari seorang cendekiawan Muslim Indonesia, Nurcholis Majid atau yang lebih akrab dikenal Cak Nur.

Ia menceritakan bagaimana ia dan terutama suaminya, berjuang membela kebebasan beragama di Indonesia pada saat itu. Saat di mana harga untuk sebuah pertemuan semacam ini adalah hinaan, intimidasi bahkan persekusi.

Di tengah meningkatnya tensi beragama di Indonesia, saya merasa sangat beruntung bisa mendapat kesempatan untuk berkunjung sekaligus melakukan dialog bersama sesama muslim yang kerapkali disalahpahami dan diperlakukan tidak adil. Dari sini saya bisa melihat kekokohan Jemaat Ahmadiyah.

Saya mengerti, bahwa di banyak daerah di Indonesia, Jemaat Ahmadiyah seringkali dianggap sebagai aliran baru, keluar dari Islam, kafir, dan seterusnya, dan seterusnya. Hak-hak mereka sebagai individu ataupun kelompok seringkali terabaikan atau bahkan direnggut begitu saja, sebagaimana yang terjadi di Lombok beberapa tahun silam.

Tetapi, tahukah mereka bahwa dalam ceramah-ceramah yang saya dengarkan, tidak ada satupun ajakan untuk membalas mereka yang telah merampas hak, membakar masijdnya menuduh dengan segala macam tuduhan yang menyudutkan.

“Jawablah kekerasan mereka dengan kelembutan,” ujar salah seorang muballigh Ahmadi. Tentu saja, itu merupakan ajaran penting Islam, untuk berkata baik, berakhlak mulia.

Saya cukup terenyuh dengan……. selengkapnya klik BincangMuslimah.Com