BincangSyariah.Com – Pada artikel sebelumnya telah diuraikan siapa itu sosok yang mengaku sebagai sahabat palsu. Kabar tentang sahabat palsu yang muncul di India ini benar-benar meresahkan para ulama hadis pada masa itu. Al-Dzahabi (673-748 H) adalah orang yang paling tidak nyaman dan gusar karena keberadaannya. Ia bahkan menulis satu buku khusus tentangnya, namun sayang, buku itu tidak sampai ke kita.

Ibnu Hajar al-Asqallani (773-852 H), banyak mendapatkan kisah itu dalam beberapa kitab rijal hadis karya al-Dzahabi. Ia menulis biodata Ratan, sang sahabat palsu itu secara panjang lebar. Butuh beberapa halaman untuk menguraikan kisahnya dalam kitab ensiklopedi sahabat yang berjudul, al-Ishabah fi Tamyizis-Shahabah.

Al-Dzahabi menyebut biodata Ratan dalam Mizan al-I’tidal, sebagai berikut:

رتن الهندي وما أدراك ما رتن شيخ دجال بلا ريب ظهر بعد ستمائة فادعى الصحبة والصحابة لا يكذبون وهذه جراءة على الله ورسوله

“Ratan al-Hindi. Siapa dia itu?! Dia itu orang tua pembohong. Jelas itu, tidak perlu diragukan lagi. Dia baru muncul setelah tahun 600 H, lalu tiba-tiba mengaku pernah bersahabat dengan Nabi. Padahal, sahabat itu tidak ada yang berbohong. Ini sunggun perbuatan yang nekat, terlalu berani, melawan Allah dan rasulNya.”

Kabar tentang Ratan ini memang benar-benar membuatnya marah dan geram. Al-Dzahabi bahkan tak segan-segan menggunakan kata-kata kasar setiap kali menyebut nama-nama yang identik dengan Ratan. Ahli hadis lain juga demikian, meskipun tidak seemosional al-Dzahabi.

Tampaknya, kehadiran Ratan ini pulalah yang mendorong Ibnu Hajar untuk mengubah definisi sahabat. Semula, definisi sahabat adalah orang-orang beriman yang pernah melihat (ra’a) Nabi. Baru pertama kalinya, Ibnu Hajar menggantinya dengan definisi, orang beriman yang bertemu (laqiya) Nabi. Dengan definisi ini, orang yang sekedar melihat Nabi dalam mimpinya, tidak dapat disebut sebagai sahabat Nabi. Pertemuan yang dimaksudkan oleh Ibnu Hajar tentunya adalah pertemuan di dunia nyata, saat terbangun, sebelum Nabi saw wafat.

Kegeraman ahli hadis itu salah satunya diekspresikan dengan kata-kata sebagai berikut;

ولئن صححنا وجوده وظهوره بعد سنة ستمائة فهو إما شيطان تبدى في صورة بشر فادعى الصحبة وطول العمر المفرط وافترى هذه الطامات وإما شيخ ضال اسس لنفسه بيتا في جهنم بكذبه على النبي صلى الله عليه و سلم ولو نسبت هذه الأخبار لبعض السلف لكان ينبغي لنا أن ننزهه عنها فضلا عن سيد البشر

“Seandainya kami harus membenarkan keberadaannya, sementara dia baru muncul setelah abad ke-enam, maka pastilah dia itu kalau bukan setan yang menjelma jadi manusia yang mengaku sebagai sahabat Nabi yang berumum panjang dan membuat-buat kerusakan, berarti dia itu orang tua yang sesat. Dia sedang membangun sebuah rumah untuknya sendiri di Jahannam karena kebohongannya terhadap Nabi saw. Seandainya nama para ulama salaf dibawa-bawa untuk membenarkan cerita ini, maka tugas kitalah yang menghapuskannya, apalagi ini menyangkut nama baik Nabi.”

al-Dzahabi juga menyebut sanad-sanad apapun, baik itu sanad hadis maupun sanad non-hadis, yang terdapat nama Ratan al-Hindi di dalamya, sebagai Silsilatul Kadzib (rantai palsu), bukan Silsilatudz-Dzahab (rantai emas).

Ibnu Hajar juga menemukan data lain tentang Ratan dalam buku-buku sejarah yang ditulis oleh Syamsudin al-Jazari. Ia mendengar kisah gurunya yang cerdas, yaitu Abdul Wahhab bin Ismail al-Farisi di Mesir pada tahun 712 H. Saat itu, di Syiraz pada tahun 675 H, ada seorang pendatang bernama Mahmud, putera Baba Ratan. Ia mengisahkan bahwa ayahnya adalah saksi hidup peristiwa besar yang merupakan mukjizat Nabi, insyiqaqul qamar (terbelahnya bulan). Peristiwa itulah yang menjadi motivasinya untuk berhijrah.

Tidak hanya itu, ayahnya juga menjadi salah satu pejuang perang Khandaq, bahkan ia adalah salah satu penggali paritnya. Saat menggali parit (khandaq), ayahnya selalu membawa keranjang berisi kurma Hindi (tamar hindi) sebagai kado atau hadiah spesial untuk Nabi. Saat memakan kurma hadiah tersebut, Nabi sambil meletakkan tangannya ke punggung Ratan seraya mendoakannya panjang umur. Saat itu, Ratan masih berusia 16 tahun.

Setelah itu, Ratan pulang ke kampung halamannya di India hingga meninggal. Usianya saat meninggal mencapai 632 tahun.

Setelah mengisahkan riwayat hidup ayahnya itu, pemuda cerdas putera Ratan itu pun kemudian meriwayatkan beberapa hadis yang ia dengar langsung dari ayahnya dari Nabi. Praktis, sanad itu pun hanya terdiri dari dua orang, yaitu dirinya (Mahmud), dan ayahnya (Ratan). Setelah itu, langsung Nabi sebagai sumbernya.

Di antara hadis yang dia dengar itu adalah;

قال رتن كنت في زفاف فاطمة أنا وأكثر الصحابة وكان ثم من يغنى شيئا فطابت قلوبنا ورقصنا بضربهم الدف وقولهم الشعر فلما كان من الغد سألنا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن ليلتنا فقلنا كنا في زفاف فاطمة فدعا لنا ولم ينكر علينا

“Aku bersama banyak sekali sahabat Nabi menghadiri pesta pernikahan Fatimah, puteri Nabi. Saat itu ada orang yang bernyanyi. Kami pun sangat menikmati nyanyian itu hingga kami menari-nari dan berjoget ria diiringi tabuhan rebana dan lantunan syair. Keesokan harinya, kami menanyakan perihal kelakuan kami pada malam itu kepada Nabi. Nabi justru mendoakan kami dan sama sekali tidak mengingkarinya.”

Hadis tersebut didokumentasikan oleh al-Dzahabi dan dikutip dari al-Irbili (w. >632 H; menurut al-Zirikli). Al-Irbili sendiri adalah orang yang hidup semasa dengan Ratan dan Mahmud.

Tentu hadis tersebut tidak bersanad panjang (nazil), karena disampaikan secara langsung oleh Mahmud, anak Ratan yang mengaku sebagai sahabat Nabi. Jika terkecoh dengan sanad tersebut, tentu kita akan menyatakan bahwa sanad itu sangat tinggi, luhur (‘ali), karena tidak banyak mata rantai perawinya. Sepintas orang akan menyatakan sebagai silsilah dzahab, rantai emas, sanad emas. Oleh karena itu, al-Dzahabi segera menyebutnya dengan rantai dusta, rantai palsu, alias silsilatul kadzib.

Membaca hadis tersebut, spontan ingatan saya langsung tertuju pada film-film India. Di setiap pesta pernikahan, adegannya selalu diiringi dengan tabuhan gendang berirama mirip dangdut, lalu diiringi dengan nyanyi-nyayian dan pasti juga ada joget dan tarian khas India. Acha…acha, nehi…nehi… Rasa-rasanya koq mustahil Nabi diam saja melihat seperti itu. Seandainya benar, pasti ada satu saja sahabat yang menceritakannya. Apalagi, Ratan menyebut bahwa saat itu ia bersama dengan banyak sekali sahabat Nabi. ***

BincangSyariah.Com – Selama ini, yang banyak disampaikan oleh para ustadz dan para dai adalah mengenai kewajiban anak menghormati orang tua. Sementara keutamaan orang tua menghormati anak jarang sekali disampaikan. Padahal dalam Islam orang tua tidak hanya wajib mendidik anak, tetapi ia juga wajib menghormatinya. Dalam kitab Lubabul Hadis, Imam Suyuthi menyebutkan beberapa keutamaan orang tua menghormati anak.

Pertama, menghormati anak merupakan perintah dari Nabi Saw. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Majah dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا آدَابَهُمْ

Hormatilah anak-anak kalian dan perbaikilah adab-ada mereka.

Kedua, menghormati anak dapat menjadi tabir bagi orang tua dari siksa neraka. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut, bahwa Nabi Saw bersabda;

أكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ فَإِنَّ كَرَامَةَ الْأَوْلَادِ سِتْرٌ مِنَ النَّار

Muliakanlah anak-anak kalian karena sungguh memuliakan anak-anak itu dapat menjadi penghalang dari api neraka.

Ketiga, menghormati anak dapat mempermudah melewati sirath. Ini berdasarkan hadis berikut, bahwa Nabi Saw bersabda;

الْأَوْلَادُ حِرْزٌ مِنَ النَّارِ وَالْأَكْلُ مَعَهُمْ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَكَرَامَتُهُمْ جَوَازٌ عَلَى الصِّراطِ.

Anak-anak itu pelindung dari api neraka, makan bersama mereka itu pembebas dari api neraka, dan memuliakan mereka itu dipermudah melewati di atas shirat (jembatan).

Keempat, akan dihormati oleh Allah nanti di surga. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda;

أَكْرِمُوا أوْلَادَكُمْ فَإِنَّ مَنْ أَكْرَمَ أَوْلاَدَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ فِى الْجَنَّةِ

Muliakanlah anak-anak kalian, karena sungguh siapa yang memuliakan anak-anaknya, maka Allah akan memuliakannya di surga.

Kelima, memuliakan anak dihitung sebagai ibadah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda;

التَّزْوِيْجُ بَرَكَةٌ وَالْوَلَدُ رَحْمَةٌ فَأَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ فَإِنَّ كَرَامَةَ الْأوْلَادِ عِبَادَةٌ

Pernikahan itu keberkahan dan anak itu rahmat, maka muliakanlah anak-anak kalian, maka sesungguhnya memuliakan anak-anak itu ibadah.

Global Ramadan talkshow.

Tebuireng.online– Madina Institute Indonesia in Collaboration with Tebuireng Online

*Global Ramadan Talkshow: Various Perspective from Around the Globe Addressing the Pandemic*

📚 Streaming Online GMT +7 from Facebook: *Saturday, 9 May 2020* *15.30 – 17.15 pm WIB*🇮🇩

with Ustadzah Hafza Iqbal 🇬🇧 (Ph. D Candidate of Theology and Sociology of Religion)

Imam Ahmad Deeb 🇺🇸 Masters in Islamic Studies, Founder of Itqaan Institute

Ustadz Zubair Rahaman 🇿🇦 Alumni Madina Institute 2015 Medical Student at University of Pretoria

classes will be streamed online at:

https://www.facebook.com/madinainstitute.id/ And: https://www.facebook.com/TebuirengOnline/ And Zoom More info WA: +628 999 666 975

www.madinainstitute.or.id

Suasana tes penerimaan Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. (Foto: dokumen Maha)

Tebuireng.online- Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (MAHA) Tebuireng mengadakan Tes Penerimaan Mahasantri Baru (PMB) gelombang I, Sabtu-Ahad (20-21/4/19). Adapun pelaksanaan tes dimulai pukul 14.00 WIB pada kedua hari tersebut yang bertempat di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Tahun ini, tes prnerimaan mahasantri diikuti 60 peserta meliputi 35 peserta putra dan 25 peserta putri. Peserta yang mendaftar tersebut pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Tegal, Semarang, Indramayu, dan lain-lain.

Adapun tes PMB sendiri, dilaksanakan dengan dua sesi, yakni sesi tes tulis sebagai sesi pada hari pertama, dan sesi tes lisan sebagai sesi pada hari kedua. Tes tulis meliputi materi Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Bahasa Arab (BA). Tes lisan meliputi tes baca Al Quran dan tes baca kitab kuning, yakni kitab Kifayatul Akhyar.

Para peserta tes tampak semangat dan antusias mengikuti tes MAHA kali ini. “Tesnya bagus sekali, semangat sekali, antusias, dan keinginannya sangat kuat kelihatannya,” tutur Ustadz Zainur Ridlo selaku salah satu penguji PMB sekaligus sebagai dosen tetap di MAHA.

“MAHA itu enak, seru, mendalami bahasa arab dan kitab,” ungkap Dewi Rahayu, salah satu peserta PMB ketika diwawancarai oleh wartawan tebuireng.online seputar motivasi memilih MAHA.

Peserta lain asal Semarang yang bernama Dinar, juga mengungkapkan bahwa motivasi terbesarnya didapat dari kedua orang tuanya, yang mendorong untuk belajar agama. “Buat apa sih hidup ini kalau tidak mendalami agama,” komentarnya dengan begitu bersemangat.

Pewarta: Ananda Prayogi / R. Anisah
Publisher: RZ

BincangSyariah.Com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan imbauan mengenai ucapan salam antar agama yang biasa disampaikan para pejabat. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua, shalom, om swastiastu. Namo buddhaya, salam kebajikan.”

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas  menyatakan bahwa muslim sepatutnya mengucap salam dan doa sebagaimana yang telah diajarkan pendahulunya. Abbas mengamini imbauan yang dikeluarkan MUI Jawa Timur.
MUI Jatim menyatakan bahwa mengucapkan salam semua agama merupakan sesuatu yang bidah, mengandung nilai syuhbat, dan patut dihindari oleh umat Islam, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.

Membantah hal tersebut, Muchlis Hanafi, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, tidak sependapat dengan imbauan tersebut. Menurutnya, ulama berbeda pendapat mengenai pemberian salam kepada kafir non-harbi (tidak memerangi). Menurut Muchlis, Tafsir al-Qurthubi dan Tafsir al-Thabari menyebutkan kebolehan memberikan salam pada kafir non-harbi. Ini merupakan bagian dari sikap berlaku baik dan adil kepada mereka. Hal ini berdasarkan QS. Al-Mumtahanah: 8, dan QS Maryam: 47. (Baca: Hukum Mengucapkan Salam kepada non-Muslim)

Menurut alumni Al-Azhar ini, Al-Qurthubi berpendapat bahwa jika terdapat maslahat mendesak karena hubungan pertemanan, pertetanggaan, dan sesama warga negara dan warga bangsa yang berjanji hidup damai bersama, itu dipersilakan. Hadis yang melarang memulai bersalam itu konteksnya dalam situasi perang atau bermusuhan.

Menurut pria yang pernah menjadi penerjemah Presiden saat dikunjungi Raja Salman ini, mengucapkan salam kepada non-Muslim itu bukan hal yang bidah. Ulama salaf ada yang pernah melakukan hal tersebut. Bahkan para sahabat pun melakukan hal tersebut. Muchlis menyebutkan nama sahabat Nabi Ibnu Masu’ud yang biasa melakukan hal tersebut. Sahabat Nabi yang lain, Abu Umamah menyalami siapa saja yang ditemuinya, muslim atau kafir. Sahabat Abu Umamah pernah mengatakan, “Bukankah Agama mengajarkan kita untuk menebar salam kedamaian?”

Selain itu Muchlis juga menengahi kedua perbedaan pendapat tersebut dengan mengutip pendapat Imam al-Auzai, “Anda bersalam pada non-Muslim itu mengikuti ulama salaf. Anda tidak bersalam juga mengikuti ulama salaf.” Oleh karena itu, Muchlis mengimbau agar yang ingin mengucapkan salam campur agama atau yang tidak ingin itu saling menghormati satu sama lain. Yang tidak berkenan mengucapkan salam tersebut hendaknya tidak menganggap orang lain melakukan perbuatan bidah, syubhat, dan dianggap sesat.

BincangSyariah.Com – Keseluruhan tulisan dalam buku Pesan Islam Sehari-Hari: Memaknai Kesejukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar ini berbentuk esai, berjumlah 56 tulisan, terbagi menjadi tiga bagian, dengan 16 esai. Jika bisa analogikan, buku ini bisa dibilang sebagai wujud dari Pesan Islam Gus Mus yang menyejukkan. Esai-esai ditulis dalam gaya sederhana yang mudah dimengerti.

Esai pertama yang diberi judul Fenomena Kekuasaan, Kehidupan, dan Politik membahas tentang kehidupan beragama di kampung-kampung pada masa akhir Orde Baru dan awal reformasi. Ada nasihat soal memilih sekolah Taman Kanan-kanak hingga tentang makna kekuasaan. Meski menyampaikan hal-hal berat, Gus Mus menulis dengan bahasa yang ringan.

Yang menarik dari bagian pertama ini adalah Gus Mus menciptakan tokoh-tokoh fiktif, mungkin representasi dari tokoh asli di kehidupan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam esai berjudul Peluang Para Kontestan Pemilu misalnya, ada tokoh bernama Kang Kimin yang menjadi tokoh utama, seseorang yang menjadi rujukan masyarakat dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupan.

Bagian kedua, berjudul Perilaku Kiai dan Perilaku Umat. Ada 17 esai dalam bab kedua ini yang membahas tentang Kiai. Mulai dari pembahasan Tablig Akbar dan Pagelaran seni yang pernah digelar oleh Rhoma Irama, Setiawan Djody, Zainuddin M.Z dan WS. Rendra, hingga persoalan pahala memberikan pinjaman dalam esai berjudul Memberi Pinjaman (hal. 219).

Dalam bagian kedua ini, esai berjudul Perempuan dan Kesalehan (hal. 214) adalah yang paling menarik. Ia memaparkan tren di kalangan muslimah yang mencantumkan nukilan ayat 21 dalam surat ar-Ruum dalam undangan pernikahan yang membuat kaum feminis merasa terpojokkan atas dominasi laki-laki dalam terjemahan ayat tersebut.

Pesan Islam Gus Mus dilanjutkan dengan tulisan yang membahas tentang pilihan menjadi wanita karir dan ibu rumah tangga. Menjelang akhir tulisan, ia menekan satu alinea berikut: wanita muslim, seperti juga pria muslim, mempunyai miqyas, ukuran kepatutannya sendiri sesuai dengan pedoman yang dimilikinya. Ia menghargai pilihan setiap orang—baik Muslimah maupun Muslim—untuk memilih keyakinan seperti apa yang akan dijalani dalam hidupnya.

Gus Mus mengingatkan pada kita bahwa apa pun pilihan yang diambil, baik menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga, Allah Swt sesungguhnya telah mengingatkan kepada kita bahwa bukan pilihan itu yang membuat kedudukan seseorang mulia di hadapan Allah Swt, melainkan ketakwannya. Maka, berbeda pilihan seharusnya tidak menjadi masalah.

Bagian ketiga dengan judul Allah, Nabi, dan Makna Ibadat. Gus Mus membahas hablumminallah dan hablumminannas dalam 23 esai pada bab terakhir, hal yang seharusnya menjadi pijakan utama umat Islam dalam beragama. Puluhan esai ini mengupas lima rukun Islam yakni syahadat, shalat, zakat, puasa, haji hingga konsep kesalehan Gus Mus yang paling terkenal: saleh ritual dan saleh sosial, menjadi kesalehan total.

Gus Mus, nampaknya mengembuskan satu napas serupa dalam tiap tulisannya. Napas tersebut bernama pluralitas, benang merah pesan Islam Gus Mus. Ia juga mengajak pembacanya untuk beramar ma’ruf nahi munkar degan sejuk dan damai, tanpa kekerasan. Ia pun merekatkan tiap tulisan dengan konteks sosio-politik yang ada, sehingga tulisannya adalah gambaran dari fenomena yang terjadi pada zamannya.

Keberagaman tulisan dalam buku ini bersesuaian dengan pengantar buku ini yang berjudul Taman Bunga Perenungan Seorang Kiai, ditulis oleh Mohamad Sobary, seorang budayawan. Gus Mus menunjukkan bahwa dalam tiap kumpulan tulisannya, ada warna-warni persoalan yang dibahas. Di dalamnya, diselipkan pesan-pesan keislaman yang ia refleksikan dari pengalaman pribadi.

Pesan Islam Gus Mus ini akan terus dibaca orang jika kita sebagai pembaca terus membagikan tulisan-tulisannya dengan banyak orang lalu mengembangkan gagasan Gus Mus sebagai tulisan, konten di media sosial, dan mewujudkannya dalam tindak-tanduk keseharian.[]

Judul               : Pesan Islam Sehari-hari

Memaknai Kesejukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Penulis            : A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Penerbit           : Laksana

Cetakan           : Pertama, 2018

Tebal               : 336 halaman

ISBN               : 978-602-407-443-2

BincangSyariah.Com – Zaman sekarang rasanya tidak mungkin setiap muslim dapat mengkhatamkan al-Quran dalam satu hari. Oleh sebab itu, kita bisa membaca jantungya, yaitu surah Yasin. (Kumpulan Artikel Mengenai Tafsir dan Khasiat Surah Yasin)

Husin Naparin dalam karyanya Memahami Kandungan Surah Yasin mengatakan bahwa surah Yasin adalah surah yang berperan penting di dalam Al-Qur’an, yang mana surah Yasin dianggap sebagai jantung Al-Qur’an.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Sesungguhnya segala sesuatu itu ada jantungnya, dan jantung Al-Qur’an adalah Yasin. Aku ingin surah Yasin itu ada dihati setiap umatku.” (HR. al-Bazzar).

Yasin adalah jantungnya Al-Qur’an. Jantunglah yang menggerakkan kehidupan seorang manusia. Oleh sebab itu, Rasulullah saw mengatakan ingin agar surah Yasin ada di dalam hati atau jantung para umat pengikutnya, artinya beliau ingin agar umat beriman digerakkan oleh isi surah Yasin.

Membaca surah Yasin dapat mendatangkan segudang manfaat dan khasiat bagi orang yang beriman. Selain mendapat ampunan, bagi orang yang senantiasa membaca surah Yasin juga akan mendapatkan ridho Allah swt.

Rasulullah saw bersabda:

“Jantung Al-Qur’an itu ialah surah Yasin. Tidaklah dibaca akan dia oleh seseorang yang menghendaki keridhaan Allah dan keselamatan di hari akhirat, melainkan Allah mengampuni akan Dosanya”. (HR. Abu Daud).

Amirullah Syarbini dalam karyanya Kedahsyatan Membaca Al-Quran mengatakan bahwa untuk menghadapi perkara yang sulit kemudian dia membaca surat Yasin, maka Allah swt akan memberikan kelancaran dalam urusannya.

Apabila surat Yasin dibacakan pada orang yang akan meninggal dunia maka orang yang akan sakaratul maut diberikan kemudahan rohnya keluar dari alam jasadnya. Dan, jika dibacakan kepada orang yang meninggal dunia, maka orang yang meninggal dunia itu Insya Allah akan mendapat rahmat dan berkah dari-Nya.

Jika seorang sedang lapar dan kemudian membaca surah Yasin, Allah swt akan menurunkan anugrah-Nya dengan memberikan kekenyangan kepadanya. Jika seseorang sedang mengalami ketakutan, kemudian dia membaca surah Yasin, Maka Allah swt akan menghilangkan rasa kecemasan dan ketakutannya. Dan jika seseorang terlilit utang kemudian membaca surah Yasin, Insya Allah Allah akan menyelamatkan dirinya dari uatang piutangnya.

Rasulullah saw bersabda:

“Lazimkanlah olehmu membaca surat Yasin, Maka di dalamnya ada dua puluh berkat. Jikalau yang membaca orang lapar maka ia akan dikenyangkan. Jikalau yang membaca orang telanjang (orang tak mampu membeli pakaian) maka ia akan dikaruniai pakaian. Bila ia sakit maka ia akan diberi kesembuhan”. (HR. Ali bin Abi Thalib).

Wallahu A’lam Bishawab

sumber gambar: https://www.kompasiana.com

Oleh: Yayan Mustofa*

Yang membedakan manusia satu dengan lainnya adalah isi kepala dan hati. Penampilan luar memang bisa membantu memberikan penilaian, tapi tidak selamanya sesuai dengan gambar utuh pribadi seseorang.

Lelaki yang berpeci, berkemungkinan besar bahwa ia seorang muslim. Perempuan yang berkerudung, muslimah. Berangkat ke masjid ketika mendengar adzan. Berziarah ke makam dengan mengenakan sarung atau atribut muslim lainnya. Meskipun ada yang bisa menirukan penampilan luar tersebut, tapi tidak dikatakan banyak.

Kasus orientalis masa penjajahan semacam Snough Hourgronje bisa menjadi contoh. Hal ini juga yang menjadi alasan Karl von Smith untuk tidak menuliskan pengalaman perjalanan masuk Islam. Dalam tulisan Asad Syihab, Smith khawatir akan tuduhan orientalis dan lebih memilih laku pembuktian fisik ketimbang tulisan atau pengakuan melalui atribut luar.

Begitulah kiranya langkah awal untuk memposisikan ilmu spiritual. Apa yang dikatakan sebagian orang tentang golden way, memang manis. Karena fungsinya mempersiapkan hati dan mental dalam menghadapi masalah, belum memecahkan permasalahan itu sendiri seutuhnya.

Dengan hati lapang dan pikiran jernih, maka diharapkan melahirkan terobosan jitu melebihi dari sekedar menyelesaikan problematika yang dihadapi. Tentunya hal ini membutuhkan ilmu lain.

Penempatan ilmu sesuai dengan proporsinya akan mempengaruhi kebijaksanaan dalam mengambil keputusan dan bertindak. Seperti kasus santri yang sama-sama sudah berkeluarga pada 2017 akhir kemarin.

Sebut saja Ahmad baru diperbolehkan membawa pulang anaknya yang opname sebab kejang. Selang beberapa hari, Mahmud berkunjung menjenguk anak Ahmad ke rumahnya. Ia bercerita kalau beberapa bulan sebelumnya, anak si Mahmud juga terkena kejang tengah malam. Dikiranya, si anak diganggu jin. Ia bacakan amalan-amalannya sembari menggendong keluar masuk rumah. Akhirnya sembuh juga.

Dua hari kemudian, anaknya kejang lagi di siang hari. Akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat karena amalannya tidak bekerja seperti semula. Di sana pak dokter menjelaskan kalau anaknya dua hari yang lalu bukan diganggu jin, tapi kejang. Hal ini lumrah dialami balita. Kalaupun sembuh, itu karena angin malam yang dingin di luar rumah. Sebab penanganan pertama kejang memang diusap dengan kain basah hingga demamnya turun.

Mungkin juga demikian yang dialami oleh beberapa tokoh agama yang duduk di pemerintahan. Mereka terkena kasus korupsi bukan karena melakukan hal keji itu, tapi ilmu kepemerintahannya masih belum cukup dibanding lawan politik yang hasud. Kejujuran dan keilmuan agama saja belum cukup untuk menyelesaikan problematika. Ia masih membutuhkan ilmu lainnya.

Golden way para tokoh agama sudah membangun mental dan pikiran untuk berani maju dalam gelanggang perpolitikan dan pemerintahan karena merasa prihatin dengan informasi yang kurang baik. Pertanyaan selanjutnya, sudah cukup atau belum ilmu yang membekali keberanian mental? Kalau tidak, maka kembali muncul ungkapan, golden way memang manis, tokoh agama lakunya sama saja, dan semisalnya. “Al-Amal bila ilmin la yakun”, tindakan tanpa ilmu, tidak tepat sasaran, kata Imam Al-Ghazi.

Pun sebaliknya, tanpa pengetahuan dan laku spiritual, faqad tafassaqa, tersesat. Hilang arah dan tak terkendali yang berpotensi pada laku brutal, anarkis, zalim, lalim, dan serentetan lainnya.


*Tim Pustaka Tebuireng.

BincangSyariah.Com – Surah Al-Rahman termasuk surah Al-Munjiyat yang banyak dibaca oleh kaum muslim. Bahkan saat ini kadang surah Al-Rahman dijadikan sebagai mahar sebuah pernikahan. Ini menunjukkan bahwa surah Al-Rahman ini begitu favorit di hati banyak kaum muslim.

Selain itu, ayat yang banyak disebut dalam surah Al-Rahman adalah ayat yang berbunyi ‘Fabiayyi Alaa-i Robbikuma Tukadzdziban’. Bahkan ayat ini diulang sebanyak tiga puluh satu kali.

Ketika mendengar ayat ini, kita dianjurkan untuk membaca jawaban dan doa sebagaimana jawaban dan doa jin berikut;

لا بِشَيءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الحَمْدُ

Laa bisyai-in min ni’amika robbanaa nukadzdzibu fa lakal hamdu.

Tidak satupun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, kami dustakan. Bagi-Mu segala puji.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Jabir, dia berkisah;

خَرَجَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – عَلَى أصحَابِهِ فَقَرَأَ عَلَيْهِمْ سُورَةَ الرَّحمَنِ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا فَسَكَتُوا فَقَالَ: لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيلَةَ الْجِن فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ، كنْتُ كُلَّمَا أَتَيتُ عَلَى قَوْلِهِ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ قَالُوا: لا بِشَيءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الحَمْدُ

Rasulullah Saw keluar pada sahabatnya, lalu beliau membaca surah Al-Rahman dari awal sampai akhir namun para sahabat diam semua. Kemudian Nabi Saw berkata; ‘Saya telah membacakan surah Al-Rahman pada jin pada malam jin. Jawaban mereka lebih baik dari kalian. Setiap kali saya sampai pada ayat ‘Fabiayyi Alaa-i Robbikuma Tukadzdziban’, mereka berkata, ‘Laa bisyai-in min ni’amika robbanaa nukadzdzibu fa lakal hamdu.’

BincangSyariah.Com – Puasa menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani, pada kitab karangannya sendiri yaitu Sirr al-Asrar, bukan hanya untuk menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh serta apa saja yang mampu membatalkan puasa, akan tetapi puasa juga diartikan sebagai mekanisme menjaga anggota tubuh secara zahir maupun batin.

Syekh Abdul Qadir mengacu pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah pada kitab Sunan Ibnu Majah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ رَافِعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَ العَطش

Amr ibn rafi’ menceritakan kepada kami, dari Abdullah ibn al-Mubarak, dari Usamah ibn Zaid, dari Sa’id al-Maqburiy, dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: banyak orang-orang yang melakukan puasa tetapi tidak mendapatkan nilai dari puasanya rasa  lapar dan dahaga. (HR. Ibnu Majah).

Dari hadis tersebut, dapat diambil, bahwa puasa secara lahiriah bukan hanya untuk menahan lapar dan haus, akan tetapi juga menahan dan menjaga dari sifat batiniyyah seperti tidak melakukan pekerjaan yang dilarang oleh Allah SWT.

Jika keduanya mampu diterapkan pada perbuatan ibadah puasa Ramadhan, baik dari segi lahiriah dan batiniyah, maka efek puasa pasca Ramadhan akan terasa terus menerus sehingg menjadi pribadi yang lebih baik. Menurut Syekh Abdul Qadir ibadah bukan hanya tentang tata cara pelaksanaannya saja atau yang menyebabkan ibadah menjadi batal serta menjauhi larangan, namun ibadah dapat juga makhluk Allah yang mampu berada mencapai maqam (tingkat) kedekatan terhadap Allah. Dengan begitu tidak ada lagi ibadah yang dianggap sebagai kewajiban yang membebankan, akan tetapi merupakan kenikmatan.

Sebab, jika perbuatan batiniyah tidak diterapkan dalam puasa, akan dikwatirkan perbuatan puasa secara lahiriyah sewaktu-waktu dapat terjadi pembatalan. Karena menurut Syekh Abul Qadir, berpuasa secara lahiriah dan batiniah dapat menjaga penyakit hati, seperti halnya riya’, sombong, iri dengki, putus asa dan lain sebagainya.

Selama ini Syekh Abdul Qadir memang dikenal sebagai ulama yang mempunyai dimensi berfikir yang mendalam terkait ibadah, sehingga mampu mengantarkan manusia menuju interaksi kedekatan dengan Allah SWT melalui perantara kenikmatan ibadah yang dilakukannya.