6 Alasan Kenapa Sebaiknya Menghindari KPR Konvesional

6 Alasan Kenapa Sebaiknya Menghindari KPR Konvesional

Bumitahfidz.co.id – Sudah menjadi hal yang umum kita perhatikan di jalan-jalan bertebaran spanduk penawaran rumah beserta bunga KPR yang menyertainya.

Namun tahukah Saudarakh sekalian, bahwa ternyata ada beberapa hal yang merugikan di sisi nasabah apabila mengambil KPR secara konvensional.

Setidaknya ada 5 hal yang membuat nasabah tidak nyaman bahkan merugi apabila memutuskan untuk mengambil rumah melalui KPR Konvensional.

  1. Proses BI Checking yang ribet dan melelahkan

BI Checking adalah tahap awal jika mau mengajukan KPR ke bank. Dalam tahap ini saja, prosesnya bisa memakan waktu berminggu-minggu. Karena memang bank akan memverifikasi data-data yang ada secara mendalam. Bagi Sahabat Fillah yang berprofesi sebagai pegawai tetap mungkin hal ini tidak terlalu menjadi persoalan. Karena kelengkapan data sudah disediakan oleh kantor.

Namun bagi saudara-saudara lainnya yang memiliki pekerjaan sebagai wirausaha mikro ataupun pedagang, syarat yang diperlukan sungguh berat dan sifatnya wajib dipenuhi. Seperti izin-izin usaha lengkap, laporan keuangan yang mendalam, serta aliran kas usaha yang stabil. Gagal memenuhi salah satu kriteria tersebut, maka pengajuan ditolak. Dan impian memiliki rumah harus dikubur dalam-dalam.

  1. Denda keterlambatan

Ketika pengajuan sudah diterima, dan sudah mulai tahap mencicil, maka tak boleh ada kata terlambat menbayar cicilan meski hanya sehari. Jika terlambat, maka akan dikenakan denda yang besarnya bervariasi tergantung kebijakan bank yang menyediakan fasilitas KPR. Umumnya, denda dikenakan per hari keterlambatan.  Tentu saja hal ini membuat biaya yang dikeluarkan untuk memiliki rumah tersebut jadi semakin tinggi dan tidak bisa diprediksi. Tak ada dispensasi maupun toleransi untuk keterlambatan tersebut, walau kondisi keuangan keluarga sedang sulit.

  1. Teror Debt Collector

Ketika sudah tidak mempu membayar cicilan dikarenakan alasan apapun, maka bersiap-siaplah menghadapi para debt collector yang memang disewa bank dengan tujuan agar nasabah segera membayar angsuran yang tertunggak. Dalam hal ini debt collector tersebut diberi wewenang menggunakan segala macam cara agar nasabah merasa terpojok, tidak nyaman, terancam dan takut apabila menunda pembayaran lebih lanjut lagi.

Mungkin Saudaraku sekalian merasa berani untuk menghadapi teror dari debt collector tersebut. Namun, coba bayangkan apabila yang menghadapi adalah anak, istri atau orang tua Saudaraku sekalian yang sedang berada di rumah. Apakah mereka merasa aman, nyaman, dan tentram untuk tinggal di rumah tersebut?

  1. Resiko Sita jika gagal bayar

Jika nasabah tidak mampu melanjutkan cicilan dikarenakan alasan apapun, maka bersiap-siaplah untuk mengosongkan rumah. Ya, mau tak mau rumah harus diserahkan kembali ke bank.

Dimana bank tersebut masih memiliki hak penuh terhadap rumah tersebut. Rumah akan disita dan lalu akan di lelang. Besaran nilai lelang pun bank yang menentukan. Nilainya haruslah menutupi kekurangan cicilan nasabah. (Biasanya di lelang jauuuuh di bawah harga pasar agar cepat laku).  Lalu, nasabah yang telah mencicil selama tahunan atau puluhan tahun hanya bisa duduk terpaku penuh nestapa meratapi hilangnya aset disertai dengan kesia-siaan membayar cicilan selama ini.

Jarang sekali bahkan hampir tidak pernah bank memberikan kelebihan sisa lelang rumah kepada nasabah.

  1. Dikenakan Pinalty jika melunasi lebih cepat

Jika  nasabah memiliki rezeki lebih di kemudian hari dan ingin mempercepat pelunasan cicilan rumah tersebut, maka nasabah akan dikenakan pinalty (biaya tambahan). Ya, Saudaraku sekalian tidak salah baca. Jika ingin melunasi lebih cepat, maka akan dikenakan “denda” karena

“ketidakpatuhan” untuk membayar selama jangka waktu yang disepakati.

Memang terdengar lucu. Namun hal tersebut merupakan fakta yang terjadi pada umumnya.

        6. Melawan Hukum Allah

Point ini yang paling penting, karena selain lima point diatas inilah point utama kenapa kita harus menjauhi dari KPR Konvensional.

______

Enam hal tersebutlah yang membuat KPR di Bank Konvensional terasa merugikan dari sisi nasabah. Sedangkan pihak bank tidak akan pernah mau merugi. Perlu Saudaraku semua ketahui bahwa lima hal tersebut dapat dirasakan, baik secara logika, materi juga secara emosi. Belum lagi bila menyinggung masalah dosa riba yang tidak terkira besarnya. Naudzubillah..

Jadi setelah mengetahui informasi ini, masih mau KPR Konvensional?

Yuk, sama-sama berhijrah untuk menghindari transaksi ribawi…. (lie)

Mau Punya Rumah Atau Kavling Tanpa Bank? Ini Caranya

Mau Punya Rumah Atau Kavling Tanpa Bank? Ini Caranya

Bumitahfidz.co.id – saat ini rumah menjadi hal paling penting ketika membina sebuah keluarga baru, karena itulah semakin banyak developer rumah yang membangun rumah dengan memberikan sistem pembayaran yang menarik. Tetapi terkadang ada sistem KPR rumah yang menggunakan sistem riba sehingga secara agama dianggap terlarang.

Jika anda tidak ingin membeli rumah melalui bank maupun sistem riba, anda bisa menggunakan beberapa cara mendapatkan rumah yang lain. Karena itulah anda perlu membeli rumah tanpa bank dan riba dengan beberapa cara yang akan kita ulas berikut ini:

  1. Bayar Rumah Secara Cash

Hal pertama adalah dengan membeli rumah secara cash saja, dengan begitu anda tidak perlu meminjam ke bank dengan sistem bunga. Biasanya Bank memang memberikan sistem bunga sehingga itulah yang akhirnya membuat kredit rumah tersebut mengandung riba.

Anda bisa menabung terlebih dahulu jika memang uangnya belum cukup, yang terpenting ada target kapan anda ingin membeli rumah. Dengan begitu anda bisa segera membeli rumah secara cash, tetapi memang butuh kerja keras karena tidak mudah mendapatkan rumah dengan cash.

  1. Membeli Secara Barter

Anda juga bisa membeli rumah dengan barter, misalnya anda memiliki sebidang tanah dan ingin anda barter dengan rumah tertentu. Sistem seperti itu diperbolehkan, apalagi jika antara tanah dengan rumah tersebut memang harganya sebanding sehingga anda bisa mendapatkan rumah lebih cepat.

  1. Membeli Rumah KPR Syari’ah

Anda bisa memiliki rumah dengan sistem KPR atau kredit tetapi membeli yang syariah karena sekarang banyak developer yang menjual rumah dengan sistem KPR Syariah. Jadi anda tidak perlu membayar bunga setiap bulan nya, serta tidak ada sita dalam perjanjian.

Sistem syariah ini sekarang sedang banyak disukai masyarakat karena selain lebih ringan, anda bisa mengangsur uang tersebut. Tidak perlu menabung terlalu lama karena anda bisa mendapatkan rumah sambil bekerja dan melunasi kekurangan tersebut.

  1. Bangun Rumah Sendiri Secara Bertahap

Anda juga bisa memiliki rumah dengan cara membuat rumah sendiri tetapi membeli bahan-bahan rumah secara bertahap. Jika anda menabung uang mungkin akan habis karena kebutuhan sehari-hari, tetapi akan berbeda jika anda membangun rumah secara bertahap membeli bahan-bahan nya.

Misalnya bulan pertama membeli batu bata, kedua membeli semen dan lain-lain, dengan begitu anda tidak perlu membeli rumah secara cash. Membangun rumah seperti ini memang butuh waktu lama, tetapi anda tidak perlu memikirkan uang bulanan yang harus dibayar karena anda hanya membeli bahan sesuai kebutuhan dan kesanggupan anda.

  1. Menabung Emas

Jika anda termasuk orang yang tidak bisa menabung uang, sebaiknya anda menabung emas saja agar anda tidak menggunakan nya. Setelah emas tersebut terkumpul banyak, anda bisa menjualnya dan membelikan rumah sekaligus agar bisa utuh.

Biasanya seseorang sulit menabung, apalagi jika banyak kebutuhan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sehingga uang tabungan selalu terambil. Karena itulah anda perlu menabung dalam bentuk barang, itu akan lebih memudahkan anda untuk tidak menggunakan nya terlebih anda harus menjualnya lebih dulu untuk bisa menggunakan nya.

Itulah beberapa cara anda untuk mendapatkan rumah sebagai solusi rumah tanpa riba yang bisa anda coba. Biasanya developer memilih untuk kredit rumah sistem bank, tetapi anda cari saja developer rumah tanpa riba dengan sistem KPR Syari’ah agar lebih menguntungkan bagi anda, terima kasih. (lie)

Inilah Rukun Puasa Ramadhan Yang Perlu Diketahui

Inilah Rukun Puasa Ramadhan Yang Perlu Diketahui

Bumitahfidz.co.idTerdapat sebagian orang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, baik kendaraan pribadi lebih-lebih kendaraan umum. Dan, hal ini dia alami juga pada saat melaksanakan puasa. Ketika dia naik kendaraan untuk kepentingan dan keperluan tertentu saat berpuasa, dia akan muntah. Dalam keadaan demikian, apakah puasanya batal?

Dalam kitab Taqrib disebutkan bahwa ada empat hal yang menjadi rukun atau fardhu puasa, yaitu melakukan niat di waktu malam, menahan diri dari makan dan minum, menahan diri dari jima’, dan menahan diri dari sengaja muntah. Jika empat rukun atau fardhu ini terpenuhi, maka puasa dinilai sah. (Baca: Doa Naik Kendaraan)

Syaikh Abu Syuja’ berkata dalam kitab Taqrib sebagai berikut;

وفرائض الصوم أربعة أشياء النية والإمساك عن الأكل والشرب والجماع وتعمد القيئ

Fardhu (rukun) puasa itu ada empat hal; niat, menahan diri dari makan dan minum, menahan diri dari jima’, dan menahan diri dari sengaja muntah.

Mengenai seseorang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, maka dia dianggap tidak sengaja untuk muntah. Meski dia tahu bahwa akan muntah jika naik kendaraan saat berpuasa, dia tetap tidak dinilai sengaja untuk muntah karena muntah tersebut terjadi bukan pilihan dirinya.

Oleh karena itu, jika dia naik kendaraan saat berpuasa dan kemudian muntah, maka puasanya tidak batal, dan dia tidak perlu mengganti puasanya setelah bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana  hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

Barangsiapa terdorong untuk muntah, maka tidak ada qadha baginya, dan barangsiapa yang sengaja muntah, maka hendaknya mengqadha.

Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, maksud terdorong muntah adalah muntah bukan disebabkan pilihan dan keinginan dirinya sendiri, akan tetapi karena terpaksa muntah. Beliau berkata sebagai berikut;

وذرعه اي خرج من غير اختيار منه

Terdorong muntah maksudnya adalah muntah tersebut keluar bukan pilihan dari dirinya sendiri.

Dengan demikian, orang yang terbiasa muntah ketika naik kendaraan, kemudian saat berpuasa naik kendaraan dan muntah, maka puasanya tetap sah, tidak batal. Hal ini karena muntah tersebut keluar bukan pilihan dari dirinya, melainkan keluar dengan terpaksa dan tanpa disengaja. (lie)