Tips Selalu Sehat di Bulan Rumadhan

Tips Selalu Sehat di Bulan Rumadhan

Bumitahfidz.co.id Dalam buku “Hikmah Puasa Perspektif Medis” yang ditulis oleh Dr. Agus Rahmadi bekerjasama dengan tim penelitian el-Bukhari Institute dikatakan, bahwa biasanya ketika dalam keadaan lapar saat berpuasa ramadhan, perlahan secara alami cadangan gula darah/glukagon dalam tubuh akan diaktifkan.

Namun, glukagon yang terbatas tidak mampu mengkaver seluruh kebutuhan energi. Itu sebabnya dilarang untuk berpuasa sehari semalam, atau dalam khazanah fikih dikenal sebagai puasa wishaal (menyambung).

Penjelasan diatas jadi contoh bahwa Nabi Saw. sendiri melarang berpuasa yang berlebih-lebihan. Sikap berlebih-lebihan dalam berpuasa justru akan membuat manusia menjadi lemah dan tidak produktif. Berpuasalah sesuai kadarnya sehingga membuat tubuh menjadi sehat.

Beberapa tips puasa sehat seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. diantaranya adalah sebagai berikut:

1- Tetap Makan Sahur

Sahur sangat bermanfaat untuk menyiapkan cadangan energi bagi tubuh saat menjalani puasa. Dalam sebuah hadis yang diiwayatkan oleh Anas bin Malik Ra.:

«تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً»

“Makan sahurlah, sesungguhnya di dalam sahur terdapat keberkahan”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh banyak ulama hadis, misalnya al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Nasai, dan Ibn Majah. Karena riwayat al-Bugakhari dan Muslim sama-sama bersumber dari Anas bin Malik, dalam disiplin ilmu hadis dikenal sebagai muttafaqun ‘alaih. Artinya, keduanya sebagai penyusun kitab hadis yang dipastikan paling sahih dari masa ke masa sepakat dengan redaksi riwayat hadis ini.

Keberkahan sahur digambarkan tidak hanya tentang bangunnya kita di waktu yang mustajab, namun juga segi fisik seperti makan untuk persiapan puasa.

Dalam praktiknya, Rasulullah Saw. biasa makan sahur di waktu yang dekat waktu subuh. Begitu dekatnya, seperti digambarkan oleh Zaid bin Tsabit Ra. jarak antara sahur dan shalat subuh hanya sekitar membaca 50 ayat Quran. Hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari,

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit Ra. beliau berkata: “Kami sahur bersama Rasulullah Saw. kemudian melaksanakan shalat. Aku (Anas bin Malik) bertanya: berapa jaraknya antara azan dan sahur ? Zaid berkata: sekitar lima puluh ayat.”

Menurut Ibn Hajar dalam Fath al-Baari, ukuran lima puluh ayat adalah bagian dari kultur masyarakat arab untuk mengukur sesuatu, seperti dengan seberapa lama pekerjaan dikerjakan. Lima puluh ayat adalah simbol kalau jarak antara sahur dengan shalat subuh tidak terlalu lama.

Hal ini, jelas Ibnu Hajar, adalah salah satu kearifan Nabi Saw. Jika sahur diwajibkan di tengah malam atau ditiadakan sama sekali, ini akan membuat umatnya sulit melaksanakan puasa karena alasan mengantuk.

Sebagai penutup, Nabi Saw. bahkan menyatakan bahwa yang membedakan antara puasa umat Islam dengan puasa ahlul kitab adalah melakukan sahur. Seperti hadis yang diriwayatkan al-Nasa’i dari ‘Amr bin al-‘Ash,

عن عمرو بن العاص قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحور

Dari ‘Amr bin al-‘Ash, beliau berkata: Rasulullah Saw. bersabda: perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah dengan makan sahur.

2- Berbuka Puasa dengan Air Putih dan Makanan Manis

Setelah seharian penuh tidak mengkonsumsi apapun, tubuh yang telah diprogram untuk berpuasa tersebut dalam kondisi relaksasi. Dalam sebuah penelitian medis, disarankan untuk membatalkan puasa dengan meminum air putih dan makan makanan yang mengandung karbohidrat/zat gula.

Zat gula berkontribusi untuk mengembalikan energi tubuh yang hilang saat berpuasa. Dalam penelitian tersebut juga direkomendasikan untuk tidak memakan makanan yang berminyak atau memiliki suhu yang ekstrim, seperti panas atau dingin.

Tanpa bermasuk mencocok-cocokkan, rupanya dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, al-Tirmidzi, dan Abu Ya’la. Rasulullah Saw. juga merekomendasikan hal yang serupa, makan kurma 3 buah saja dan tidak mengkonsumsi makanan yang dimasak dengan api.

Hadisnya diriwayatkan Abu Ya’la dari sahabat Anas bin Malik Ra.:

وَعَن أَنَسٍ ، رَضِيَ الله عَنْهُ , قَالَ : كَانَ رَسُولُ الل صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يُحِبُّ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى ثَلاَثِ تَمْرَاتٍ ، أَوْ شَيْءٍ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ

Dari Anas bin Malik Ra. beliau berkata: “Dulu Rasulullah Saw. suka berbuka puasa dengan tiga buah kurma, atau makanan lain yang tidak tersentuh api”
Abu Ya’la menilai kalau seluruh periwayat hadis ini adalah orang-orang terpercaya.

Ditinjau dari segi medis, makanan yang mengandung zat gula memang dapat mendongkrak jumlah energi dalam tubuh yang hilang selama berpuasa.

3- Mengatur Pola Makan Saat Berbuka

Di saat berbuka, terkadang kita sering lupa mengendalikan diri dalam mengkonsumsi makanan untuk berbuka. Dengan tersedianya berbagai macam makanan yang mengenakkan lidah katakanlah seperti sirop, kolak, gorengan, kue, ayam goreng, dan makanan enak lain benar-benar membangkitkan selera. Apalagi perut dalam keadaan lapar.

Perilaku ini kurang baik. Kita harus mengingat kembali bahwa tujuan disyariatkannya puasa seperti yang disebutkan dalam surah al-Baqarah: 183, agar kita menjadi orang bertaqwa. Sikap orang bertaqwa ditunjukkan diantaranya dengan kemampuan mengendalikan hawa nafsu.

Karena itu secara medis direkomendasikan agar seseorang memulai dengan meminum air putih atau mengkonsumsi makanan yang manis, seperti kurma. Ini selaras dengan hadis yang diriwayatkan. Tidak disarankan untuk makan makanan yang berminyak, atau makanan yang manis hasil dari pengawet dan penguat rasa, seperti sirup.

Hal itu berpotensi menimbulkan problem di dalam tubuh seperti batuk atau mengantuk karena terlalu banyak makanan. Selain itu, makanan yang dapat memicu asam lambung seperti sangat pedas atau sangat asam di saat berbuka dapat menimbulkan penyakit maag.

Selain itu, direkomendasikan juga agar tidak langsung mengkonsumsi makanan berat terlalu banyak setelah shalat maghrib.

Pasalnya, lambung perlu penyesuaian untuk bekerja lebih berat setelah seharian beristirahat. Itu mengapa banyak orang yang mengeluh mengantuk setelah makan berat saat berbuka puasa karena lambungnya langsung dipaksa mengolah makanan dalam jumlah yang banyak. Wallahualam.

Tata Cara Sholat Gerhana Sesuai Sunnah

Tata Cara Sholat Gerhana Sesuai Sunnah

Bumitahfidz.co.idSholat gerhana matahari dalam bahasa Arab biasa disebut dengan kusufus syams. Sholat ini baru disyariatkan pada tahun 5 Hijriah. Hukum melaksanakan sholat ini adalah sunah muakadah atau sunah yang sangat dianjurkankan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw.:

Matahari dan matahari itu sungguh merupakan tanda kekuasaan Allah. Karena itu, gerhana matahari maupun matahari itu bukan tanda kematian seseorang atau kehidupan seseorang. Ketika kalian melihat terjadi gerhana, maka sholat dan berdoalah sampai fenomena alam itu selesia. (HR Muslim)

Sholat gerhana berjumlah dua rakaat dan dianjurkan dilakukan berjamaah. Dalam setiap rakaat, sholat ini terdapat dua kali bacaan surah dan dua kali ruku’.

Waktu sholat gerhana dimulai ketika mulai terjadi fenomena alam tersebut yang diumumkan oleh lembaga astronomi pemerintah maupun non-pemerintah. Berakhirnya waktu sholat gerhana matahari ini ketika posisi matahari sudah tampak normal kembali seperti biasanya, sudah kembali terang dan tidak gelap. Bacaan sholat sunah gerhana matahari disunahkan sir, dibaca pelan sebagaimana saat sholat Zuhur atau Asar.

  1. Niat Sholat Gerhana Matahari bagi Imam/Makmum

أُصَلِّي سُنَّةّ كسُوْفِ الشمس رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّه تعالى

Usholli sunnata kusufis syamsi rak’ataini imaman lillahi ta’ala

أُصَلِّي سُنَّةّ كسُوْفِ الشمس رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْماً لِلّه تعالى

Usholli sunnata kusufis syamsi rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala

  1. Takbiratul Ihram

Di sini, makmum mengangkat tangan sambil mengucapkan Allahu akbar. Makmum melakukan takbiratul ihram setelah imam melakukannya.

  1. Bersedekap dan Membaca Doa Iftitah

Setelah takbir, imam dan makmum menyedekapkan kedua tangannya di bagian perut dan atas pusar sambil membaca doa iftitah berikut.

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .

Allohu akbar kabiro wal hamdu lillahi katsiro, wa subhanallohi bukrotaw wa ashila inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharos samawati wal ardho hanifam muslimaw wa ma ana minal musyrikin. Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin. La syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin.

  1. Membaca Surah Alfatihah

Dalam sholat sunah gerhana matahari, imam dianjurkan membaca Alfatihah dan surah Al-Qur’an secara sir atau dipelankan bacaannya seperti saat sholat Zuhur atau Asar. Karena itu, imam dan makmum membaca surah Alfatihah sendiri-sendiri.

Surah Alfatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (3مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Bismillahir rohmanir Rohim (1) alhamdu lillahi robbil ‘alamin (2) arrohmanir rohim (3) maliki yaumid din (4) iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (5) ihdinas shirotol mustaqim (6) shirotol ladzina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdubi ‘alaihim wa lad dhollin (7)

  1. Membaca Surah

Saat imam diperkirakan sudah selesai membaca surah Alfatihah, makmum juga dianjurkan membaca surah salah satu surah dalam Al-Qur’an.

  1. Ruku’ Pertama

Selesai membaca surah dalam Al-Qur’an, lalu kedua tangan diangkat setinggi telinga dan membaca allahu akbar. Kemudian badan dibungkukkan, kedua tangan memegang lutut sambil ditekan. Usahakan antara punggung dan kepala supaya sejajar dan rata.

Setelah sempurna ruku’, disunahkan membaca tasbih sepanjang 100 ayat surah Al-Baqarah bila memungkinkan. Namun boleh juga hanya membaca tasbih selama 5 menit misalnya. Adapaun bacaan tasbihnya sebagai berikut.

سُبحَانَ اللهِ وَالحَمدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله وَاللهُ اَكبَر وَلَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيم.

Subhanalloh walhamdulillah walailaha illohhu wallohu akbar wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adzhim.

  1. Berdiri

Setelah selesai membaca tasbih pada ruku’ pertama, bangunlah kembali sambil mengangkat kedua tangan hingga telinga dan mengucapkan allahu akbar.

  1. Membaca Alfatihah dan Surah Al-Qur’an

Setelah berdiri tegak, bacalah Alfatihah kembali, dan diikuti bacaan surah dalam Al-Qur’an., seperti surah Al-Zalzalah.

Surah Alfatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (3مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Bismillahir rohmanir Rohim (1) alhamdu lillahi robbil ‘alamin (2) arrohmanir rohim (3) maliki yaumid din (4) iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (5) ihdinas shirotol mustaqim (6) shirotol ladzina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdubi ‘alaihim wa lad dhollin (7)

Surah Al-Zalzalah

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا (3يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا (5)يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Idza zulzilatil ardhu zilzalaha (1) wa akhrajatil ardhu atsqalaha (2) wa qalal insanu ma laha (3) yaumaidzin tuhadditsu akhbaraha (4) bi anna rabbaka auha laha (5) yaumaidziy yashdurun nasu asytatal li yurau a’malahum (6) fa may ya’mal mitsqala dzarratin khairay yarah (7) wa may ya’mal mitsqala dzarratin syarray yarah (8)

  1. Ruku’ Kedua

Selesai membaca surah Alzalzalah, lalu kedua tangan diangkat setinggi telinga dan membaca allahu akbar. Kemudian badan dibungkukkan, kedua tangan memegang lutut sambil ditekan. Usahakan antara punggung dan kepala supaya sejajar dan rata.

Setelah sempurna ruku’, disunahkan membaca tasbih sepanjang 80 ayat surah Al-Baqarah bila memungkinkan. Namun boleh juga hanya membaca tasbih selama 3 menit misalnya. Adapaun bacaan tasbihnya sebagai berikut.

سُبحَانَ اللهِ وَالحَمدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله وَاللهُ اَكبَر وَلَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيم.

Subhanalloh walhamdulillah walailaha illohhu wallohu akbar wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adzhim.

  1. I’tidal

Setelah selesai ruku’ kedua, kemudian bangkit tegak dengan mengangkat kedua tangan setinggi telinga sambil membaca zikir i’tidal berikut:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهْ

Sami‘allahu li man hamidah

Setelah tegak dalam keadaan I’tidal, bacalah doa berikut.

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Robbana lakal hamdu mil’us samawati wa milul ardhi wa mil’u ma syi’ta min syain ba’du

Selesai i’tidal lalu sujud dengan cara meletakkan dahi pada sajadah. Ketika turun dari berdiri I’tidal ke sujud dianjurkan sambil membaca allahu akbar, dan saat sudah sujud dianjurkan membaca doa berikut:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلىَ وَبِحَمْدِهْ

Subhana rabbiyal a’la wa bi hamdih (3x)

  1. Duduk di Antara Dua Sujud

Setelah sujud lalu bangunlah sambil membaca allahu akbar untuk duduk, dan saat duduk dianjurkan membaca doa berikut:

رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنيِ وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي

Robbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu ‘anni

  1. Sujud Kedua

Setelah selesai melakukan duduk di antara dua sujud, lakukanlah sujud sambil membava allahu akbar, dan saat sudah sujud membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهْ

Subhana rabbiyal a’la wa bi hamdih (3x)

  1. Rakaat Kedua

Setelah selesai sujud kedua, kembali berdiri untuk melanjutkan rakaat kedua sambil membaca allahu akbar. Praktik pada rakaat kedua itu sama seperti rakaat pertama, yaitu terdiri atas dua kali berdiri, dua kali membaca Alfatihah dan surah Al-Qur’an, dua kali ruku’. Lakukanlah hal serupa pada rakaat kedua ini hingga sujud kedua.

  1. Tahiyat Akhir

Setelah sujud kedua pada rakaat kedua, duduklah dengan kaki bersilang sambil membaca allahu akbar. Usahakan pantat menempel di alas sholat, dan kaki kiri dimasukkan ke bawa kaki kanan, jari-jari kaki kanan tetap menekan ke kiri alas sholat. Adapaun doa yang dibaca saat Tahiyat Akhir adalah sebagai berikut:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Attahiyyatul mubarokatush sholawatut toyyibatu lillah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barokatuh. Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish sholihin.

Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Allahumma sholli ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin kama shollaita ‘ala ibrohima wa ‘ala ali Ibrohim, wa barik ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin kama barokta ‘ala ibrohima wa ‘ala ali ibrohim innaka hamidum majid.

Allohumma inni a’udzu bika min ‘adzabi jahannama, wa min ‘adzabin nar, wa min  fitnatil mahya wal mamat, wa min syarri fitnatil masihid dajjal. Allahummagh firli ma qoddamtu wa ma akh-khortu, wa ma asrortu wa ma a’lantu, wa maa asyroftu wa ma anta a’lamu bihi minni, antal muqoddimu wa antal mu’akh-khiru, la ilaha illa anta.

Pada saat sampai membaca Asyhadu alla ilaha illallah, disunahkan jari telunjuk diangkat hingga lurus seperti angka satu.

  1. Salam

Selesai membaca tahiyat akhir, kemudian salam dengan menengok ke kanan dan ke kiri sambil mebaca:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Assalamu’alaikum wa rohmatulloh

  1. Khotbah Gerhana Matahari

Khotbah gerhana matahari dilakukan sama sebagaimana khotbah sholat Jumat, yaitu sebanyak dua kali khotbah. Namun, pada khotbah gerhana matahari, imam dianjurkan menyampaikan materi tentang tobat, anjuran bersedekah, dan melakukan perbuatan baik lainnya kepada para jamaah. Saat imam sedang khotbah, makmum dianjurkan untuk mendengarkan khotbah terlebih dahulu, dan tidak disarankan membubarkan diri sebelum imam selesai khotbah.

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Aplikasi Berkah

Goresan Pena Santriwati Tebuireng

Goresan Pena Santriwati Tebuireng

Bumitahfidz.co.id

Oleh: Fatimatuz Zahra*

Kertasku mulai layu
Tintaku mengering termakan waktu
Pikiranku buntu
Tak temukan jalan untuk berlalu

Hurufku tak kunjung jadi kata
Kata-kataku tak bisa dieja
Kalimatku tak miliki makna
Aku kalut tak tau akan menulis apa

Semakin keras aku berpikir
Tak satu pun ide bersedia untuk mampir
Jemari tanganku masih terdiam dan kaku
Kertas dan tinta masih urung bertemu

Tanpa air mata aku menangis
Butiran peluh mengalir basahi pelipis
Dalam pekat malam yang perlahan mengikis
Aku bertanya kapan aku bisa mulai menulis?


*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Sumber gambar: https://agenda18.web.id

Menyikapi Pemahaman Pluralisme

Menyikapi Pemahaman Pluralisme

Bumitahfidz.co.id – Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) bekerja sama dengan Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta berhasil menggelar acara Bedah Buku “Tafsir Al-Misbah dalam Sorotan” pada Kamis (07/11/19) kemarin di Aula H.A.R Partosentono Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Hadir sebagai narasumber Afrizal Nur (penulis buku, dosen UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Riau), Muchlis M. Hanafi (Ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an/Dewan Pakar PSQ Jakarta), Izza Rahman (Dosen UHAMKA Jakarta) dan Eva Nugraha (dosen UIN Jakarta) selaku moderator acara.

Yusuf Rahman yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya acara. “kajian akademik memang perlu ditanggapi secara akademik”, ujarnya.   

Pada sesi pemaparan narasumber Afrizal Nur selaku penulis buku mengulas tiga topik utama yang dikritisi dari Tafsir Al-Misbah yaitu seputar posisi Rasulullah dalam kasus hukum, indikasi syiah, dan paham pluralisme agama. Pada kasus hukum, dosen UIN Suska Riau ini menyayangkan keterangan dalam Tafsir Al-Misbah Keputusan Rasul selaku Hakim secara formal pasti benar, tetapi secara material belum tentu. Alasannya dengan keterangan ini, menurut Afrizal, Tafsir Al-Misbah dapat menyesatkan para pembaca awam.

Afrizal Nur juga mempermasalahkan pengutipan Tafsir Al-Mizan karya al-Tabataba’i dalam Tafsir Al-Misbah. Menurutnya, tafsir syiah tidak sepatutnya dikutip. Apalagi al-Tabataba’i diindikasikan tokoh syiah yang paling banyak mempraktikkan nikah mut’ah. Terakhir terkait dengan penjelasan Q.S al-Mudatsir ayat 4, Afrizal juga menyesalkan keterangan dalam Tafsir Al-Misbah bahwa semua agama mengajarkan kebersihan batin.

Menanggapi buku yang berasal dari disertasi Afrizal Nur di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun 2013, Muchlis M. Hanafi menuliskan surat terbuka beserta catatan kritis sebanyak 67 halaman. Muchlis mengatakan bahwa sedikitnya terdapat dua kekeliruan mendasar yaitu dari sisi metodologis dan substansi. Muchlis menyayangkan buku yang berasal disertasi dengan judul Kajian Analitikal Terhadap Pengaruh Negatif dalam Tafsir Al-Misbah ini tidak disertai metode dan langkah-langkah penelitian di dalamnya.

Bagaimana kita mengukur pengaruh negatif? Apakah ada penelitian tentang pengaruh negatif Tafsir Al-Misbah? Mengapa dibatasi lima kitab karya Ibnu Katsir, Abdurrahman al-Sa’di, Abu Bakar al-Jazairi, Ali Al-Shabuni, dan HAMKA untuk menghakimi Tafsir Al-Misbah? Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini dilontarkan Muchlis pada pemaparannya tentang metodologi.

Dari segi substansi, menanggapi soal posisi Rasulullah, Muchlis menjelaskan bahwa kajian seperti ini sudah banyak dilakukan para ulama baik terdahulu maupun kontemporer. “Terkait dengan Tasharrufat al-Rasul ini, Imam al-Nawawi, Shah Waliyullah al-Dihlawi, al-Qarafi, Syekh Mahmud Syaltut, bahkan Yusuf al-Qardawi sudah mengulas ini dengan komprehensif,” tegasya.

Masalah Tafsir Al-Misbah mengutip al-Tabataba’i, Muchlis mengatakan bahwa apa yang dikutip ini adalah terkait dengan aspek kebahasaan, makna filosofis ayat dan sebagainya. Bukan pada aspek-aspek  terkait akidah Syi’ah maupun praktek fikihnya seperti nikah mut’ah. “Tidak hanya mengutip, Pak Quraish juga mengkritisi tafsir yang dikutipnya. Seperti dalam ayat ‘Abasa wa Tawalla, beliau mengkritik pendapat al-Tabataba’i,” pungkas alumnus Universitas Al-Azhar dari S1 sampai S3 ini.

Izza Rahman sebagai narasumber ketiga mengapresiasi pernyataan Afrizal dalam buku yang mengakui bahwa Tafsir Al-Misbah adalah karya tafsir terbesar di Indonesia saat ini. Selain mengapresiasi, Izza Rahman banyak menyodorkan fakta-fakta dengan mengkomparasikan Tafsir Al-Misbah dengan Tafsir Al-Mizan karya al-Tabataba’I juga menyandingkan posisi Quraish Shihab dengan Hamka.

“Buya Hamka dalam tafsirnya mengatakan meskipun terdapat perbedaan kepercayaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah, tetapi dalam hal pengetahuan amat sempit jika tidak mau peduli hanya karena kesyiahan. Pengetahuan bersifat universal karena milik manusia bersama,” kata Izza Rahman menjelaskan posisi Hamka seperti Quraish Shihab.

Pada sesi komentar dan tanya jawab, Media Zainul Bahri berpendapat bahwa faktor sosiologis mungkin berpengaruh terhadap produk keilmuan melihat karya Afrizal Nur. “Indonesia seperti Mesir, dengan kondisi masyarakat yang majemuk, ragam kultur yang berbaur memungkinkan karya tafsir seperti Al-Misbah yang menghargai perbedaan,  sedangkan Malaysia yang elit-elit politiknya dikuasai muslim eksklusif, lebih cocok belajar untuk memperkuat akidah disana,” terang wakil dekan bidang kemahasiswaan ini.

Media menyoroti kekeliruan Afrizal Nur dalam memahami pluralisme. Menurutnya dengan mengatakan ada kebaikan dalam agama lain, Quraish Shihab berposisi sebagai mufassir yang menghargai pluralitas agama, bukan berpaham pluralisme. “Pluralisme agama itu meyakini bahwa orang-orang baik dari agama lain juga akan masuk surga,” katanya.

Acara yang berlangsung cukup meriah ini, selain dipadati mahasiswa dari UIN Jakarta juga dihadiri oleh mahasiwa PPL yang sedang berkegiatan di PSQ dari Ma’had Aly As’adiyah Sulawesi Selatan dan mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan. Santri Bait Quran PSQ pun turut serta hadir sebagai peserta acara. (lie)

Sejarah Kopi dalam Penyebaran Agama Islam di Seluruh Dunia

Sejarah Kopi dalam Penyebaran Agama Islam di Seluruh Dunia

Bumitahfidz.co.idKopi memiliki sejarah penting dalam penyebaran agama Islam di seluruh dunia (Baca: Jejak Kopi dalam Penyebaran Islam). Ulama pun mempunyai perhatian khusus membahas kopi. Salah satunya Syekh Abdullah al-Haddad dalam kitab Tatsbitul Fu’ad juz 2 halaman 13 menyebutkan doa meminum kopi sebagaimana berikut,

ورأيت مكتوبا عنه رضي الله عنه: أنه يرتب قراءة الفاتحة وآية الكرسي مع شرب قهوة الصبح، والفاتحة، ولإيلاف قريش، وإنا أعطيناك الكوثر، وقل هو الله أحد مع شرب قهوة الظهر، ومع شرب قهوة السحر خاصة يا قوي 116 مرة كما هو المأثور،  وفي غير ذلك الفاتحة فقط، ومع آية الكرسي في الغالب

Saya melihat tertulis darinya bahwa penertiban membaca surah al-Fatihah, ayat Kursi itu dibaca saat meminum kopi waktu Subuh. Sementara itu, surah Quraisy, al-Kautsar, dan al-Ikhlas dibaca saat meminum kopi waktu Zuhur. Sementara itu, meminum kopi saat waktu Sahur itu khusus membaca Ya Qowiyyu ya Matin sebanyak 116 kali sebagaimana yang terdapat dalam riwayat tertulis (ma’tsur). Di selain waktu (ketiga) tersebut, cukup membaca al-Fatihah atau ditambah ayat Kursi. 

Dari paparan di atas dapat dipahami beberapa hal.

Meminum Kopi di Waktu Subuh

Pertama, membaca surah al-Fatihah. Kedua, membaca ayat al-Kursi.

Meminum Kopi di Waktu Zuhur

Pertama, membaca surah al-Fatihah. Kedua, membaca surah QuraisyKetiga, membaca surah al-Kautsar.

Meminum Kopi di Waktu Sahur

Membaca ya qowiyyu sebanyak 116 kali.

Di Luar Tiga Waktu Tersebut 

Membaca surah al-Fatihah atau ditambah ayat Kursi. Wallahualam bis sawab. (Lie)