ket.: delegasi Kudaireng menyabet piala lomba

Tebuireng.online-PadaFestival Qur’ani se-Jawa Timur, yang diadakan oleh Pondok Pesantren HamalatulQur’an Jogoroto Jombang, perwakilan dari KUDAIRENG (Kumpulan Dai Tebuireng) kembali mengharumkan nama PesantrenTebuireng dengan meraih juara 1 dan 4, dari tigadelegasi. Lomba ini digelar pada peringatan Isra Mi’raj 1440 H, pada Rabu (03/04/19).

Juara satu diraih oleh Wildan Zuhridan Juara 4 diraih oleh Rizki Adzaki Syariv. Mereka berdua siswa Madrasah Aliyah SalafiyahSyafi’iyah (MASS) Tebuireng kelas 11. Rizki Adzaki Syarif, menuturkanbahwa lomba pidato pada kali ini bukan lomba pidato biasa yang pernah ia ikuti,menurutnya lomba kali ini walaupun pesertanya sedikit namun berkualitas.

“Kesannya luar biasa. Dari berbagailomba yang saya ikuti, hanya lomba di Hamalatul Qur’an yang membekas di hatisaya karena pelayanannya yang baik, ramah, juga sopan. Lomba di Hamalatul Qur’an ini juara menurutsaya berkualitas, karena lomba yang sebenarnya lomba karena meskipunpesertanya sedikit. Tapi sedikit ituyang berkualitas. Ketika kita-kita berlomba, menunjukkan kebolehan dalamberpidato,” jelas Zaki.

Salah satupeserta delegasi Kudaireng, Muhammad Fikri Bahauddin menyampaikan perasaannyayang sangat senang bisa mengikuti lomba pidato pada kali ini.

“Perasaaansaya sangat senang sekali karena selain melatih mental sendiri, saya jugamerasa senang karena telah mewakili Kudaireng. Harapan saya semoga Kudairengdari tahun ke tahun bisa mengharumkan nama baik Pesantren Tebuireng,” pungkasFikri.

Pewarta:Seto Galih

Publisher:MSA

  • Santri Pesantren 4 Al Ishlah Riau mengikuti apel Hari Santri Nasional 2018 di lapangan Pondok Putri pada Senin (22/10/2018).

Gegap gempita Hari Santri Nasional (HSN) 2018 dirasakan oleh seluruh santri di penjuru negeri. HSN yang jatuh pada tanggal 22 Oktober merupakan peringatan atas peristiwa fatwa Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk perang melawan penjajah.

Tebuireng.online— Untuk memperingati HSN, beberapa pesantren melakuakan apel. Tidak ketinggalan Pesantren Tebuireng 4 al Ishlah Kuala Gading Indragiri Hulu Riau yang ikut berpartisipasi melaksanakan apel di halaman pondok putri pada Senin (22/10/2018).  Dalam apel itu, santri diminta untuk jadi penengah problematika masyarakat.

“Saya berharap, santri bisamenjadi penengah permasalahan yang ada dalam masyarakat, bukan malah sebagipemicu perpecahan,” ungkap Kepala Pondok, Ustadz Ahmad Subhan kepada parasantri saat menyampaikan amanat apel.

Alumnus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng itu, menyampaikankepada para pendidik untuk menjaga amanah yang telah diemban sebagai mana KH.M. Hasyim Asy’ari yang rela mengorbankan dirinya untuk pendidikan umat dannegara.

“Hari santri sebagai semangatjuang bagi para santri untuk menuntut ilmu sehingga dapat menghadapi tuntutanzaman. Dalam hari santri yang bertema ‘Bersama Santri Damailah Negeri’,” tambahnya.

Suasana apel berjalan khidmat dengan diikuti oleh 700 santri dan santriwati, dewan asatidz serta tamuundangan yang terdiri dari perangkat desa dan guru-gurudari sekolah lain.

Dalam apel tersebut para santri memperlihatkan marching band , paskibra, dan paduan suara yangmenyanyikan lagu Resolusi Jihaddan Mars Hari Santri. Apel dipimpinoleh Kepala Pondok, Ustadz Ahmad Subhan.

Apel peringatan Hari Santri Nasional 2018 itu ditutup dengan bacaan doa oleh Ustadz Muhammad Aly Fauzi yang merupakan alumnus Pesantren Tebuireng.

Pewarta:                Tongat

Editor/Publisher: M. Abror Rosyidin

BincangSyariah.Com – Dalam kehidupan keluarga Rasulullah, kita akan banyak menemukan perempuan yang layak diteladani kesabaran dan keimanannya. Sederet nama perempuan diabadikan dalam Al-Qur’an. Namanya terkenang sepanjang zaman. Tak terkecuali situasi, rintangan, krisis, zaman dan kaum yang telah mereka hadapi.

Namun mereka tetap menjalani semuanya dengan langkah teguh, hati tenang, dan kepercayaan yang penuh kepada Allah dan segala ketetapan-Nya. Hal itu juga tak terlepas dari cicit Rasulullah. Kita telah mengenal sosok ulama perempuan terkenal yang namanya dikenang oleh sejaran karena kecerdasan ilmunya. Beliau adalah Sayyidah Nafisah binti Al-Hasan.

Nasab dan Keluarga

Nama lengkapnya adalah Sayyidah Nafisah binti Al-Hasan bin Zaid bin Al-Hasan bin Ali . Beliau lahir di Mekkah tahun 145 H. Ibunya bernama Ummu Walad. Pernikahan dengan Ishaq bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir atau dikenal dengan Al-Mu’tamin telah dikaruniai 2 orang anak yaitu Qasim dan Ummu Kulsum. (Baca: Nafisah: Sosok Guru Perempuan Imam Syafii)

Beliau dikenal sebagai perempuan yang derajatnya tinggi. Namanya dikenal oleh kalangan masyarakat muslim. Keilmuannya tak diragukan lagi. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai perempuan zuhud dan sangat terjaga ibadahnya.

Kecerdasannya telah terbangun dalam pendidikan keluarganya. Ayahnya adalah seorang ulama besar zaman dinasti Abbasiyyah tepatnya khalifah Abi Ja’far Al-Mansur. Sang khalifah mengangkat ayahnya sebagai pemimpin saat itu karena kecerdasannya dalam urusan agama dan politik. Urusannya kepemimpinan ditangan beliau sangatlah bagus.

Namun, setelah itu ayahnya dipecat dan dipenjara selama setahun. Kemudian ayahnya bisa bebas pada pemerintahan khalifah Al-Mahdi. Bahkan khalifah Al-Mahdi sangat memuliakan ayahnya.

Ayahnya meninggal saat melakukan ibadah haji pada tahun 178 H. Ketika beliau sampai di Hajar ajal menjemputnya. Ketika itu umur ayahnya 85 tahun. Kematian ayahnya menjadi musibah besar bagi keluarganya terlebih bagi seorang putrinya Nafisah.

Kezuhudan dan Karomah Sayyidah Nafisah

Sayyidah Nafisah dikenal sebagai perempuan yang sangat terjaga ibadahnya. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam keluarga yang sangat baik agamanya. Setiap harinya selalu diisi dengan membaca Al-Qu’an dari mulai pagi hingga petang. Selain itu, beliau juga sangat tekun dalam mempelajari ilmu-ilmu lainnya..

Beliau sangat tekun dalam ibadahnya. Terbukti beliau sering melakukan ibadah malam dan puasa pada siang hari. Dalam kitab Nisa’ Min At-Tarikh diceritakan bahwa beliau hanya makan sekali dalam waktu 3 hari. Selain itu, beliau juga tidak makan kecuali dari harta suaminya lantaran khawatir harta dari orang lain tercampur dengan susuatu yang haram. Ibadah ini dilakukannya hampir setengah abad. Hal itu diungkapkan oleh sepupunya Zainab binti Yahya yang meneladani keseharian beliau. Beliau berkhidmah dengan Nafisah selama 40 tahun. Sehingga hal ini terbiasa dijumpainya dalam sehari hari.

Sayyidah Nafisah dikenal sebagai perempuan yang mempunyai karomah. Beberapa kisah karomahnya disebutkan dalam kitab Nisa’ Min At-Tarikh. Salah satu karomahnya juga disebutkan dalam kitab Jami’ Karamati Al-Auliya bahwa suatu ketika beliau mendatangi Mesir, di sana terdapat perempuan Yahudi yang mengalami sakit hingga bertahun-tahun dan sembuh dengan percikan air wudhu Sayyidah Nafisah.

Suatu hari beliau berada di Mesir dan singgah di rumah Jamaluddin Abdullah bin Al-Jassas, di sana terdapat perempuan Yahudi yang tinggal di samping rumahnya bersama sang ibu. Pada suatu hari, sang ibu meminta izin putrinya untuk pergi ke kamar mandi namun sang anak melarangnya dan meminta sesorang untuk menemaninya. Karena sang ibu bingung kepada siapa akan menitipkan anaknya akhirnya beliau meminta tolong  sayyidah Nafisah untuk menemaninya.

Sayyidah Nafisah datang dan menemani perempuan tersebut. Beliau berwudhu dan air wudhunya menetes pada perempuan tersebut. Sesekali  beliau mengusapkan airnya  pada kedua kakinya dan atas izin Allah perempuan tersebut bisa berdiri seperti tak pernah mengalami sakit ini sebelumnya.

Ketika sang ibu keluar dari kamar mandi beliau kaget dan terkejut melihat putrinya. Dan ibunya berkata “ Demi Allah ini adalah agama yang benar dan kita berada dalam agama yang salah.” Tak lama setelah itu sang ayah mendengar kesembuhan putrinya dan akhirnya keluarga perempuan Yahudi mendatangi Sayyidah Nafisah untuk menyatakan keislamannya. Mereka kagum dengan agama yang dianut oleh Sayyidah Nafisah.

Kehidupan Sayyidah Nafisah di Mesir

Ketika ia berusia 44 tahun, beliau tiba di Kairo pada tanggal 26 Ramadhan 193 H. Kabar kedatangan perempuan yang cerdas ini telah menyebar luas. Beliau pun disambut oleh penduduk Kairo yang merasa bersyukur didatangi oleh Sayyidah Nafisah. Begitupun dengan Imam Syafii.

Sebelum tiba di Mesir, Imam Syafiii sudah lama mendengar ketokohan perempuan ulama ini dan mendengar pula bahwa banyak ulama yang datang ke rumahnya untuk mendengarkan pengajian dan ceramahnya.  Imam Syafii datang ke kota ini lima tahun sesudah Sayidah Nafisah.

Diceritakan bahwa Imam Syafii merupakan ulama yang paling sering bersama Sayyidah Nafisah dan belajar kepadanya. Hingga ketika wafat Imam Syafii jenazahnya dibawa kerumah beliau agar bisa dishalati oleh gurunya.

Wafanya Sayyidah Nafisah binti Al-Hasan

Sayyidah Nafisah tinggal di Mesir dalam jangka waktu yang lama. Pada tahun 208 H , beliau mulai mendapatkan kenikmatan sakit sedangkan suaminya berada di Madinah dengan urusan profesinya.

Dalam kitab Al-Haqiqah Wa Al-Majas Fi Rihlah Ila Biladi As-Syam Wa Misr Wa Al-Hijaz diceritakan bahwa Ketika Sayyidah Nafisah mengalami sakit yang cukup parah, beliau memikirkan kematiannya hingga berinisiatif untuk menyiapkan tempat pemakaman di sisi rumahnya. Beliau menggali pemakaman tersebut dengan menggunakan tangannya. Beliau selalu menunaikan  shalat dan berdzikir kepada Allah. Ada yang mengatakan bahwa beliau mengkhatamkan Al-Qur’an 190 kali .

Kematiannya sungguh menakjubkan. Ketika datang waktu malam, Sayyidah   Nafisah sedang membaca Al-Qur’an, tiba-tiba suaranya lirih. Dan saat beliau membacakan surat Al-An’am ayat 127 :

لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ

Mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi tuhan-Nya.”

Tepat setelah membacakan ayat itu, ajal menjemputnya. Wafatnya 4 tahun setelah wafatnya murid beliau Imam Syafi’i. Beliau wafat tahun 208 H dalam usia 63 tahun.

Tempat pemakamannya menuai perdebatan saat itu. Kabar wafat istrinya terdengar sampai suaminya. Sang suami meminta untuk dibawa ke Madinah dan dimakamkan di Baqi’. Namun hal itu ditolak oleh orang-orang Mesir. Mereka meminta suaminya untuk memberikan izin agar istrinya dimakamkan di Mesir namun tetap ditolak. Hingga datang waktu pagi , mereka berkumpul lagi dan meminta izin pada suami. Akhirnya Sayyidah Nafisah dimakamkan di Mesir. Sungguh musibah ini menjadi kesedihan orang orang muslim. Jasa juangnya sangat dikenang oleh mereka.

BincangSyariah.Com – Pada umumnya, kita melaksanakan shalat sunnah wudhu hanya dua rakaat saja, tidak lebih. Jarang kita melakukan shalat sunnah wudhu lebih dari dua rakaat. Namun bagaimana jika kita hendak melaksanakan shalat sunnah wudhu empat rakaat, apakah boleh? (Baca: Dua Keutamaan Shalat Sunnah Wudhu)

Ketika kita selesai melakukan wudhu dengan sempurna, kita dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah dengan niat shalat sunnah wudhu. Menurut kebanyakan ulama, shalat sunnah wudhu hukumnya adalah sunnah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa jumlah rakaat paling utama ketika melaksanakan shalat sunnah wudhu adalah dua rakaat.

Hal ini sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin dan juga disebutkan oleh Syaikh Nawawi dalam kitab Tanqihul Qaul berikut;

من توضأ فأحسن الوضوء وصلى ركعتين لم يحدث نفسه فيهما بشيئ من الدنيا خرج من ذنوبه كيوم ولدته امه

Barangsiapa melakukan wudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat, dan tidak membicarakan urusan dunia, maka dia keluar dari dosanya sebagaimana anak yang baru dilahirkan ibunya.

Juga berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim dari Uqbah bin Amir, dia berkata bahwa dalam sebuah khutbahnya, Nabi Saw bersabda sebagai berikut;

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Tidak ada seorang muslim pun yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, kamudian ia berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat (shalat sunnah wudhu), dimana hati dan wajahnya dihadapkan untuk kedua rekaat itu, kecuali wajib baginya surga.

Meski demikian, melaksanakan shalat sunnah wudhu dengan jumlah empat rakaat hukumnya boleh. Tidak ada larangan untuk melaksanakan shalat sunnah wudhu empat rakaat. Bahkan, dalam kitab Majma’uz Zawaid, Imam Al-Haitsami menyebutkan sebuah riwayat yang menyebutkan jumlah rakaat shalat sunnah wudhu empat rakaat.

Riwayat tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bazzar, dari Abdullah bin Umar, dia berkata;

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من توضأ فأحسن الوضوء ثم صلى أربع ركعات لا يسهو فيهن غفر له

Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda; Barangsiapa berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian dia shalat empat rakaat dan dia tidak lalai di dalamnya, maka akan diampuni.

Riwayat ini menunjukkan bahwa boleh melakukan shalat sunnah wudhu dengan jumlah empat rakaat, meskipun yang sangat dianjurkan adalah dua rakaat.

BincangSyariah.Com- Surat Yasin [36] merupakan salah satu surat yang populer di hampir seluruh kalangan umat Islam. Di Indonesia, kepopuleran surat ini tidak mengenal batas usia serta strata pendidikan, dari anak-anak hingga orang tua, dari yang awam hingga pelajar seperti kalangan pesantren masih terus mendawamkan tradisi membaca Yasin, yang dikenal dengan Yasinan.

Di kalangan pesantren, apalagi di bulan Ramadhan seperti ini tafsir surat Yasin sering dikaji. Salah satu kitab yang menghiasi rak-rak lemari pesantren di bidang tafsir adalah Tafsir Yasin karangan Syekh Hamami Zadah Afandi, seorang ulama dari Turki yang hidup di masa Daulah Utsmaniyyah abad ke 12 Hijriyah.

Disini, saya akan rutin dan runtut menulis tentang tafsir Yasin dengan pembahasan ayat per ayatnya. Tentu referensi yang digunakan tidak hanya Tafsir Yasin Syekh Hamami saja, namun juga dari kitab-kitab tafsir lainnya seperti Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, hingga tafsir karya ulama Nusantara seperti Tafsir Al-Ibriz gubahan Kyai Bisyri Mustofa (ayahanda dari Gus Mus) dan Tafsir Al-Misbah karya Prof. M. Quraish Shihab. Baik, mari kita mulai mengaji Tafsir Yasin ini.

Surat Yasin memiliki 83 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah, Kyai Bisri Mustofa menyebut bahwa ada satu ayat dalam surat ini yang termasuk Madaniyyah, yakni surat 45. Surat ini sering disebut sebagai hatinya Al-Qur’an serta memiliki beberapa keistimewaan,  seperti orang yang membacanya akan Allah tulis pahala baginya sepuluh kali membaca Al-Qur’an.

Pernyataan ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ad-Darimi. Hadis ini dibahas dalam Tafsir Yasin Hamami dan juga Tafsir Al-Qurthubi, namun Tafsir Yasin Hamami tidak menyebutkan kualitas hadis dan sanadnya, sedangkan Tafsir Al-Qurthubi menyebut bahwa hadis ini gharib, salah satu nama dalam sanadnya dinilai majhul (tidak dikenal) yaitu Harun Abu Muhammad, sehingga hadis ini menjadi dhaif atau lemah.

Selain itu terdapat juga beberapa keistimewaan surat Yasin yang diambil dari beberapa hadis Nabi. Seperti Allah membaca surat Yasin dan Taha sebelum menciptakan langit dan bumi. Kemudian ada banyak malaikat yang turun ketika seseorang yang sedang sakaratul maut dibacakan surat Yasin, terhitung setiap hurufnya akan turun 10 malaikat, selanjutnya malaikat-malaikat itu ikut mendoakannya, dan lain sebagianya.  Ada banyak uraian dalam Tafsir Yasin Hamami dan Tafsir Al-Qurthubi.

Bagian pertama edisi ini, yakni ayat 1 sampai 3 yang berbunyi,

يس (١) وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (٢) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ – ٣

“Ya-Siin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya engkau pastilah salah satu dari rasul-rasul”

Penyebab turunnya ayat ini karena saat itu kaum Kafir Mekkah menentang dan ingkar atas kerasulan Nabi Muhammad, mereka justru meremehkan bahwa Nabi Muhammad hanyalah anak yatim biasa yang dirawat oleh Abu Thalib, tidak pernah sekolah, tidak tahu menahu tentang pendidikan, maka mana mungkin menjadi seorang Nabi. Ungkapan kaum kafir yang ingkar itu kemudian dibalas Allah secara tegas dengan ayat-ayat ini, bahwa Nabi Muhammad benar-benar utusan Allah.

Ayat pertama hanya terdiri dari dua huruf saja, yakni ya’ dan sin. Namun ayat inilah yang mengalami banyak dialog dan penjelasan di berbagai kitab tafsir. Yasin merupakan salah satu huruf-huruf yang menjadi pembuka surat Al-qur’an (fawatih as-suwar). Quraish Shihab menuturkan bahwa para ulama merangkai huruf-huruf fawatih as-suwar yang terdiri dari 14 huruf itu dengan sebutan,

نص كريم قاطع له سر

Naṣṣun karīmun qāi’un lahu sirrun

“Teks mulia yang bersifat pasti dan memiliki rahasia”

Lafadz Yā Sīn ditafsirkan secara beragam oleh para mufassir seperti: Ya Insan (Manusia yang dimaksud adalah Nabi Muhammad), Ya sayyidal Mursalīn, sebagian nama Al-Qur’an dan bahkan ada yang menyebut sebagai salah satu nama Allah. Namun. Pendapat yang paling masyhur adalah lafaz yasiin merujuk kepada Nabi Muhammad. Al-Qurtubi mengutip Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Mawardi dari Ali RA yang artinya “Allah menamaiku dalam Al-Qur’an dengan 7 sebutan, yakni Muhammad, Ahmad, Taha, Yasiin, Al-Muzammil, Al-Muddatsir dan ‘Abdullah.”

Pada ayat kedua, Allah bersumpah dengan Al-Qur’an yang disifati dengan kata hakim/penuh hikmah. Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad sekaligus menjadi bukti atas ungkapan kaum kafir yang ingkar.

Kemudian di ayat ketiga Allah menyebut sesungguhnya Nabi Muhammad merupakan salah satu dari utusan Allah. Quraish Shihab menjelaskan bahwa dari penafsiran ayat kedua dan ketiga menunjukkan bahwa Allah menegaskan kedudukan Nabi Muhammad sebagai Rasulullah. Karena dari sekian banyak ayat yang mana Allah menekankan dengan sumpah, hanya Nabi Muhammad seorang yang pemberitaanya oleh Al-Qur’an disertai dengan sumpah. Tentu ini menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad.

Wallahu A’lam bi al-Shawab

BincangSyariah.Com – Dalam kitab-kitab hadis sudah banyak disebutkan mengenai doa-doa yang berasal dan dibaca oleh Nabi Saw ketika beliau hendak berbuka puasa atau setelah berbuka puasa. Hampir semua kaum muslimin sudah hafal mengenai doa-doa tersebut. (Baca: Doa Nabi Buka Puasa Ramadhan Lengkap Arab, Latin, dan Terjemah)

Selain doa-doa yang berasal dari Nabi Saw, juga terdapat doa setelah berbuka puasa yang dibaca oleh para sahabat. Di antaranya yang berasal dari Sahabat Ibnu Umar. Berikut lafadz doa yang dibaca oleh Ibnu Umar setelah beliau selesai berbuka puasa;

اَلْحَمْدُ للهِ اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْئَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعْتَ كُلَّ شَيْئٍ اَنْ تَغْفِرَ لِيْ

Alhamdulillahi, allohumma innii as-aluka birohmatikal latii wasi’ta kulla syai-in an taghfiroli.

Segala puji bagi Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu melalui rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.

Doa ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Ithafu Ahli Al-Islam bi Khushusiyat Al-Shiyam berikut;

وكان ابن عمر اذا افطر قال: اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْئَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعْتَ كُلَّ شَيْئٍ اَنْ تَغْفِرَ لِيْ. زاذ ابن رزين في اوله : اَلْحَمْدُ للهِ

Ibnu Umar ketika berbuka puasa beliau mengucapkan; Allohumma innii as-aluka birohmatikal latii wasi’ta kulla syai-in an taghfiroli (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu melalui rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku). Ibnu Razin menambahkan di awalnya; Alhamdulillahi (Segala puji bagi Allah).

Halaqoh Kebangsaan digelar di Pesantren Tebuireng, Ahad (7/4/19). (Foto: Syarif)

Tebuireng.online– Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) tinggal hitungan hari saja menuju tanggal 17 April 2019. Untuk mendinginkan suasana dan menghindari konflik efek Pemilihan Umum (Pemilu) ini, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur menggelar Halaqoh Kebangsaan yang mengundang tim sukses dari kedua pasangan calon presiden.

Kegiatan ini mengambil tema “Peran Ulama, Habaib, Kiai dan Cendekiawan dalam Meneguhkan Ikatan Kebangsaan Menuju Indonesia Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur.” Halaqoh sendiri dilaksanakan di Gedung Yusuf Hasyim milik Pesantren Tebuireng, Ahad (7/4/19).

Pemantauan di lokasi acara tampak kiai dan tokoh dari pendukung Calon Presiden (Capres)-Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan pendukung Capres-Cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno duduk bersandingan. Ditemani sejumlah cendekiawan.

Halaqoh digelar untuk mendinginkan suasana politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April 2019 serta merajut kembali hubungan antar Kiai yang sempat renggang karena perbedaan pilihan pada Pemilu 2019.

“Kita mengundang kiai-kiai pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 01 dan pendukung pasangan 02, yang sudah berbulan-bulan ini aktif mendukung pasangan masing-masing,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Solahudin Wahid, Ahad (7/4).

Cucu KH Hasyim Asy’ari ini menjelaskan tujuan halaqoh ini yang paling utama yaitu mencairkan komunikasi diatara tim sukses kedua pasangan capres dan cawapres. Karena selama ini ada sebagian tim sukses sungkan atau tidak enak hati saling menegur.

“Mungkin dalam berkomunikasi, terlalu bersemangat, mungkin ada hal-hal yang tidak cocok, kita ingin merekatkan kembali,” ujar Kiai yang biasa disapa Gus Solah ini.

Gus Solah mengingatkan kepada kedua belah pihak untuk tidak berlebihan dalam mendukung jagoannya sehingga melupakan persatuan. Untuk saat ini, kegiatan halaqoh baru dilaksanakan di Jawa Timur.

Dengan dirajutnya kembali hubungan antar kiai ini, Gus Solah berharap akan berdampak positif kepada persatuan Indonesia. Karena baginya, persatuan Indonesia sangat tergantung kepada persatuan umat Islam.

“Khusus di Jawa Timur kita ingin mendekatkan hubungan kiai-kiai yang sementara ini sempat renggang,” ujar adik kandung Gus Dur ini.

Gus Solah juga meminta semua pihak berlapang dada menerima hasil Pilpres nanti dan tidak melakukan aksi perusakan atau hal yang mengurai persaudaraan anak bangsa. Ia menyebutkan siapapun pemenangnya maka harus didukung demi kebaikan bersama.

“Allah SWT telah menentukan siapa nantinya yang terpilih menjadi presiden maupun wakil presiden dalam Pilpres 2019 ini. Oleh karenanya, siapapun yang menjadi pemenangnya, harus didukung semua pihak. Cuma (saat ini) kita nggak tahu orangnya, jadi kita harus menerima ketentuan Alloh itu,” tambah Gus Sholah.

Hadir serta dalam halaqoh ini sejumlah kiai seperti KH Mahfud Sobari dari Mojokerto, KH Lutfi Abdul Hadi Malang dan akademisi Profesor Imam Soeprayogo, dan sejumlah cendekiawan. Forum halaqoh ini dibuat lingkaran memutar dan secara bergantian memberikan pandangan mereka tentang kondisi sosial, politik, hingga ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. Ikut serta pejabat dari kepolisian maupun TNI yang masing-masing mewakili instansinya masing-masing.

Pewarta: Syarif Abdurrahman
Publisher: RZ

Sumber: Google.com

Oleh: Ustadz Muhammad Idris*

Assalamu’alaikum Warahmatuhi Wabarakutuh

Saya memiliki kesulitan dalam melakukan gerakan shalat dalam tasyahud akhir, karena saya memiliki paha yang besar sehingga setiap kali saya melakukan duduk tasyahud akhir yang benar saya terjatuh atau tumbang, jadi saya melakukan duduk tasyahud akhir sama seperti tasyahud awal, apakah shalat saya sah?

Syahrudin, Kabupaten Asahan

Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakutuh

Terima kasih kepada penanya, saudara Syahrudin. Mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada kita. Amiin yaa rabbal ‘alamiin. Adapun jawabannya sebagai berikut ini

Shalat merupakan rangkaian ucapan dan pekerjaan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam beserta syarat-syarat yang ditentukan. Dalam shalat terdapat beberapa hal yang harus dikerjakan semisalnya rukun shalat, namun jika seorang tidak dapat mengerjakan rukun-rukun ini secara sempurna maka diperbolehkan bagi ia untuk melakukannya dengan semampunya, seperti halnya rukun shalat yang kedua yaitu berdiri bagi yang mampu. Namun, jika seorang tersebut tidak mampu berdiri maka ia diperbolehkan untuk duduk atau berbaring, sebagaimana dalam hadis dalam kitab Shahih Bukhari:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.

“Diriwayatkan dari Imron bin Hushoin r.a, beliau berkata: “saya mempunyai penyakit bawasir, maka saya bertanya pada Nabi Muhammad terhadap shalatku, kemudian Nabi Muhammad menjawab: shalatlah kamu dengan berdiri, jika tidak mampu maka shalatlah dengan duduk dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan terlentang.

Hadis di atas menunjukkan jika seorang tidak mampu dengan berdiri maka lakukanlah dengan duduk dan seterusnya. Hal ini serupa dengan seorang yang tidak mampu duduk tawarruk (duduk dalam tasyahud akhir), maka diperbolehkan untuk duduk iftirosy (duduk dalam tasyahud awal), ini bertujuan untuk memudahkan orang tersebut. Keterangan tersebut juga dijelaskan dalam kitab Tukhfatul Habib juz 2 halaman 234

فرع : لو عجز عن هيئة الافتراش أو التورك المعروفة وقدر على عكسها فعله لأنه الميسور

Apabila seorang tidak mampu untuk duduk iftirosy (tasyahud awal) atau tawarruk (tasyahud akhir) dan ia mampu pada sebaliknya, maka seseorang tersebut boleh melakukannya (waktu duduk iftirosy tapi dia duduk tawarruk atau sebaliknya), karena hal itu akan lebih memudahkan.

Lebih dari itu, duduk iftirosy atau tawarruk termasuk dalam sunah haiat. Jika seorang tersebut duduk dengan cara yang ia kehendaki atau sesuai kemampuannya maka diperbolehkan. Dengan demikian shalat orang tersebut tetap sah. Wallahu ‘alam bisshowab.

Sekian jawaban dari tim redaksi kami. Semoga bermanfaat dan senantiasa diberikan kemudahan serta keistikamahan dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Amiin yaa rabbal alamiin.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Sumber: kelascinta.com

Oleh: Vevi Alfi Maghfiroh*

                              Telah datang purnama kepada kita,

                              Yang menerangi kegelapan,

                             Memberi cahaya tauladan dalam kehidupan.

 

Nabi Muhammad Saw. diutus dimuka bumi ini tidak hanya memberikan hukum dan syariat semata, beliaupun memberikan teladan di segala aspek kehidupan manusia. Salah satunya adalah biduk rumah tangganya yang beliau bangun bersama istrinya, Sayyidati Khadijah selama bertahun-tahun sampai akhirnya nabi meninggal dunia. Juga kehidupan berumah tangga bersama istri lainnya.

Rumah tangga nabi diliputi sifat agung yang tidak hanya terpancar di lapisan lahiriah saja, tetapi juga menembus ke dalam sisi terdalan batiniyah. Sifat yang tercermin dalam totalitas tigkah laku moral suci di semua segi merupakan representasi utuh moralitas al-Qur’an. Sifat-sifat tersebut antara lain:

Hidup Sederhana

Rumah tinggal nabi jauh dari kesan kemewahan. Kamar, pakaian, alas tidur, makanan semuanya serba sederhana. Bilik tinggal istri beliau berdiri di pinggiran masjid, berfondasikan batu gunung yang ditata, atapnya terbuat dari lembaran pelepah kurma dengan ujung yang tidak rata dan terjangkau tangan orang yang berdiri di bawahnya.

Beliau pun mengajarkan istrinya untuk tidak memikirkan harta. Pernah suatu hari istri-istri beliau meminta nafkah lebih, dan beliau pun mendiamkan mereka. Setelah kejadian tersebut membuat mereka memilih hidup susah dan lebih mendahulukan orang lain. Pola hidup Rasulullah yang seadanya ini terus berlangsung hingga hari-hari terakhir kehidupan beliau.

Padahal, seluruh pintu dunia dibuka oleh Allah untuknya, dan harta yang masuk kepadanya begitu meruah. Tetapi, hal tersebut tidak membuatnya mengubah pola hidup layaknya seorang pemimpin dan penguasa pada umumnya. Ketika berhasil menaklukan Makkah, Nabi tetap dengan pola hidup apa adanya.

Penuh Cinta

Cinta adalah rahasia kebahagiaan hidup rumah tangga. Rumah tanpa cinta, bagaikan tubuh tanpa ruh. Ketika penghuni sebuah rumah kehilangan cinta, hidup mereka berada di ujung tanduk. Di atas fondasi cinta inilah rumah tangga nabi berdiri. Cinta yang memenuhi hati seluruh istrinya tanpa terkecuali. Bukan hanya cinta sebagai seorang nabi, tetapi cinta seorang suami yang sangat berkesan.

Beliau adalah sosok suami yang ketika di rumah memberi keteduhan, dan ketika pergi menyisakan rindu dan sedih di hati. Nabi sama sekali tak pernah menunjukan kebencian kepada istri-istrinya. Tak pernah terdengar beliau berkata menyakitkan dan merendahkan. Tak pernah beliau mengangkat tangan atau tongkat untuk memberi pelajaran ataupun sekedar untuk bersenda gurau. Itulah kenapa setiap Ummu Mu’minin belomba-lomba untuk memperoleh rida Nabi.

Amanah

Dalam rumah tangga Nabi, tidak hanya beliau saja yang amanah, tetapi juga segenap istri dan keluarganya. Tak ada yang mengatakan haknya tidak dipenuhi oleh salah seorang dari mereka. Hal ini disebabkan karena mereka memang menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dan dalam arti yang seluas-luasnya.

Setia

Bukan hal aneh bila kesetiaan menjadi ciri dominan keluarga Nabi Saw. sifat ini ditunjukan Nabi kepada siapa pun yang beliau kenal, bahkan kepada pembantu dan budak beliau sendiri. Juga kepada keluarga terjauhnya sekalipun. Beliau lah yang berkata, “Allah akan menanyakan tali persahabatan sekalipun terjalin sesaat.” Kesetiaan terbesar Nabi Saw terlihat jelas kepada Khadijah. Tak henti-hentinya beliau menyebut mendiang istri pertamanya tersebut dengan segala sanjungan dan kebaikan.

Santun

Rumah Nabi adalah sumber aneka adab dan sopan santun bagi kaum muslim. Dari sana mereka belajar sikap dan perangai halus saat berkunjung dan memasuki rumah beliau. Juga diberi petunjuk agar tidak berlama-lama berada disana, cukup sebatas keperluan. Kaum muslimin juga dapat belajar bagaimana mereka harus merendahkan suara saat minta izin masuk ke rumah Nabi.

Di antara sifat rumah tangga Nabi yang lain adalah menjaga kehormatan dan kebersihan. Rumah tangga Nabi juga berhiaskan adab untuk menjaga dan mensyukuri nikmat. Beliau mengarahkan semua istrinya untuk menghormati dan menghargai dengan sungguh-sungguh setiap nikmat yang diterima.

Rendah Hati dan Melayani Keluarga

Nabi Saw membuat perubahan besar, Beliau mengubah gaya hidup yang dijalani oleh laki-laki Jahiliah. Di rumah, kalau tidak sedang melepas lelah, beliau biasanya melakukan ibadah, shalat, zikir, atau berdo’a kepada Allah. Selain itu Beliau pun melakukan tugas-tugas rumah tangga yang lain.

Ketika ditanya tentang aktivitas Nabi di rumah, Aisyah menjawab. “Beliau melayani keluarga, menjahit baju, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluan sendiri, dan menambal timba. Begitu tiba waktu shalat, beliau lalu shalat.” Dalam riwayat lain, “…. beliau lalu shalat, seolah beliau tidak mengenal kami dan kami pun tidak mengenal beliau.”

Tawakal dan Mendahulukan Orang Lain

Rumah tangga Nabi adalah rumah tangga yang hati para penghuninya selalu bergantung kepada Allah. Segala hal baik gerak dan diamnya berada di bawah pengayoman Allah, karena hal tersebut, Nabi tak pernah menyimpan makanan dan harta. Beliau pun tak pernah menahan emas ataupun perak.

Selain yang telah disebutkan diatas, masih banyak lagi hal-hal yang harus diteladani dari biduk rumah tangga Nabi. Yakni keluarga Nabi yang mengutamakan zikir dan ibadah, amat ma’ruf dan nahi munkar, giat dan jauh dari hiburan, saling menghormati dan menghargai orang lain. Semoga kita bisa meneladaninya agar tercipta keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Wallahu a’lam bisshawab.


*Alumnus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan Pondok Putri Pesantren Tebuireng.

sumber: smatrensains.sch.id

Tebuireng.online-Memberi wadah ekspresi kreatifitas santri, SMA Trensains Tebuirengmengadakan pentas seni bertajuk “Resolusi Seni 4.0” (06/04/18), antusiasme santriterlihat dari tiap persembahan tampilan angkatan putra maupun putri putri. “Panggungnyalebih besar dan didukung backgroundnya yang bagus,” ungkap salah seorang santriyang ikut tampil.

Acaraini di bawah naungan Waka Kesiswaan, sukses memukau segenap elemen sekolah dantamu undangan. Tampak hadir, bapak Agus Purwanto, penggagas SMA Trensains, memberikesan tersendiri bagi siswa siswi SMA Trensains. Santri menyalurkan dan menunjukkanbakat terpendam yang mereka miliki. Mereka bebas berekspresi dengan tetapmemperhatikan syariat Islam.

SiswaSMA Trensains Tebuireng sering bersentuhan dengan MIPA, bisa menampilkan karya dibalutkesenian. Hal ini menyanggah pendapat khalayak umum, bahwa sains sulit menyatudengan bidang seni. Penampilan tarian mendominasi acara ini, baik tradisionalhingga modern.

Permainanberbagai macam alat musik pun juga menyita perhatian penonton. “Yang membuatterharu itu penampilan seluruh angkatan putra. Untuk kakak kelas yang akanmeninggalkan SMA Trensains Tebuireng,” ucap salah satu siswi yang menikmatipertunjukan.

Pewarta:Ila

Publisher:MSA